Mengenal Kue Rasidah, Makanan Sultan Melayu Yang Kian Terlupakan

Mengenal Kue Rasidah, Makanan Sultan Melayu Yang Kian Terlupakan

- in Artikel
0
0

Teropongonline, Medan-Kota Medan yang merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia, keberagaman etnis ada di dalamnya. Sebut saja salah satunya suku Melayu sebagai penduduk asli kota Medan. Bukti ikonik bangunan Melayu yaitu Istana Maimun. Suku Melayu, ternyata juga memiliki khas kuliner berupa jajanan kue, salah satunya Kue Rasidah.

Kue Rasidah merupakan makanan khas Melayu yang konon katanya cemilan para sultan atau raja Melayu terdahulu. Salah satu usaha kuliner, Mumubutikue yang merupakan Unit Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang menjual Kue Rasidah di Medan.

Siska Hasibuan selaku pemilik usaha tersebut mengungkapkan jika makanan khas Medan itu bukan berupa bolu. “Makanan khas Medan itu sebenarnya bukan bolu, tapi salah satunya Kue Rasidah ini, Kue ini rasanya manis namun diatasnya ditabur bawang goreng,” ungkapnya.

Terungkap juga dari pernyataan Siska Hasibuan, bahwa Kue Rasidah sedang diajukan oleh Dinas Kebudayaan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) perwakilan Sumatera Utara ke United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

Secara filosofi, Kue Rasidah merupakan kue perdamaian karena memang tercipta untuk menyenangkan orang dan tidak membuat konflik.

Siska juga pernah mewawancarai salah satu orang Kesultanan Melayu tentang sejarah Kue Rasidah ini. Dalam pernyataannya, Kue ini dibuat oleh salah seorang rakyat biasa yang bekerja di Kerajaan Melayu bernama Rasidah. Konon katanya, Rasidah pernah mengagumi salah seorang keluarga kerajaan. Secara kedudukan tentu Rasidah tidak bisa menikah dengan orang kerajaan karena status sosial mereka yang berbeda.

Salah satu orang kerajaan yang Rasidah kagumi akhirnya pun menikah dengan orang yang berstatus sama. Rasidah pun diminta untuk membuat kue untuk pernikahan tersebut. Rasidah pun membuat kue tersebut dengan kesedihan yang dirasakannya dengan pembuatan kue selama waktu yang cukup lama.

Namun cerita tersebut belum pasti adanya karena literasi untuk sejarah tersebut sangat susah ditemukan, dan orang-orang terdahulu juga sudah tidak ada lagi.

Tambah Siska, mengapa rasa kue ini manis, “Karena orang Melayu tidak suka permusuhan, walaupun sakit hatinya mereka tetap menyajikan yang terbaik,” ungkapnya.

Tr : Annisa Alivia

Editor : Mhd. Iqbal

About the author

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Tersingkir di UCL, Barcelona Resmi Turun Kasta

Teropongonline, Medan-Barcelona dipastikan terdepak dari Liga Champions musim