OIF UMSU Gelar Diskusi Observatorium dan Astronomi

OIF UMSU Gelar Diskusi Observatorium dan Astronomi

- in Terkini
101
0

Teropongonline, Medan-Observatorium Ilmu Falak (OIF) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) gelar Diskusi Observatorium dan Astronomi (DOA) ke-15. Sabtu, (08/05/2021).

Diskusi yang dilaksanakan melalui aplikasi Zoom tersebut mengambil tema “Image Processing dan Olah Citra Hilal”. Diskusi ini diisi oleh Dr. Ahmad Junaidi, M.H.I. selaku pemateri sekaligus merupakan Direktur Watoe Dhakon Observatory.

Dalam pemaparannya, Dr. Ahmad Junaidi, M.H.I mengatakan bahwa kondisi hilal masih sangat sulit untuk di prediksi meski pada hari ke 30 Ramadan. “Kondisi hilal awal sangat menantang dari berbagai aspek, dari aspek hisab nya juga jarang terjadi dan ijtimak ini terjadi pada hari ke 30. meskipun ijtimaknya terjadi pada hari yang ke 30 ini, kondisi hilal sebetulnya juga masih sangat sangat sulit untuk kita lihat,” ungkapnya.

Lanjutnya lagi, menurut Ahmad Junaidi mengapa sangat sulit untuk melihat hilal pada hari ke 30 Ramadan dikarenakan salah satunya adalah kondisi alam di Indonesia. “Karena dalam posisi seperti nanti saat pada tanggal 30 Ramadan ini sebetulnya kalau bagi saya pribadi, kondisi hilal nanti belum yang termasuk kategori yang mungkin dilihat secara kasat mata. Karena berbagai sebab yang melatar belakangi terutama kondisi alam di Indonesia,” kata Dr. Ahmad.

Dalam diskusi yang di gelar melalui aplikasi zoom tersebut Ahmad Junaidi mengatakan bahwa akan mencoba menghitung ketinggian hilal di wilayah Medan yang hanya 5° 46’ 56” dengan elongasinya 6° 37’ 17”.

Pada angka tersebut Ahmad Junaidi memberi tahu di Indonesia belum ada dokumentasi keberhasilan melihat hilal. “Sebenarnya kita di Indonesia belum ada dokumentasi keberhasilan melihat hilal yang ada adalah dokumentasi pengakuan. namun terkait dengan dokumentasi citra hilal pada posisi ini di Indonesia, sependek yang saya tau belum ada yang berhasil mengabadikan atau merekam hilal pada kondisi atau posisi seperti ini,” ucapnya.

Ini juga menjadi tantangan bagi mereka karena ijtimaknya sudah pada hari ke 30 dengan kondisi hilal seharusnya sudah kelihatan.

Ahmad Junaidi berharap dengan elongasi 6½° atau ketinggian 5° nantinya akan ada orang yang mampu melihat hilal. “Ini sangat menarik dan menantang bagi kita apakah betul elongasi 6½° atau ketinggian 5° itu nanti akan ada orang yang mampu melihat hilal. Mampu dari sisi yang objektif artinya bisa dipertanggungjawabkan dari sisi sains ataupun sisi syariahnya,” harapnya

Terakhir, ia mengatakan secara umur sudah sangat memadai untuk dijadikan salah satu argumen dalam rukyat hilal karena umurnya sudah hampir 17 jam tetapi dari segi elongasi dan ketinggian masih sangat minim sekali.

Tr : Berry Sanjay

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

PK IMM FEB UMSU Laksanakan DAD

Teropongonline, Medan-Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)