ELEN

ELEN

- in Dunia Sastra
484
0

“Cukup…! Berapa banyak korban yang akan gadis itu renggut di dalam rumah tua itu? Aku tidak mau melanjutkannya lagi, biarkan aku pergi aku tidak akan mengambil honor yang kau janjikan itu!” Fia hendak pergi dari lokasi shooting.

“Tidak bisa sesukamu, Film akan tetap berjalan itu artinya kau harus tetap profesional.”
            “Aku tidak mau mati konyol di sini. Jika kau mau, silahkan berpuas-puas di rumah tua mematikan ini.” Bentak fia.

“Apa yang kau takutkan dari bangunan ini? Inikah bintang film yang dibanggakan itu? Pengecut!”
            “Lia, Frans dan Lana sudah menghilang. Baru tiga hari kita di sini. Tapi mereka mana? Menghilang setelah alunan music box itu berkali-kali terdengar. Kau gila mementingkan film yang bisa di ganti dengan uang?”

“Ha! Konyol sekali kau? Music box itu hanya ilusi kau saja. Mereka hanya kebetulan menghilang bersamaan. Kau harus patuhi peraturan ini.” tegas Neo.
            Fia berdesis, malam semangkin larut. Ini moment yang ia takutkan alunan musik box itu lagi-lagi terdengar. Siapa yang akan mati esok? Jantung Fia terus berdegub matanya tak henti melirik jam di ruang kosong berdebu ini.

“Rio… kau mau kemana?” Teriak Fia ketika Rio melangkah dengan tatapan kosong.
            Rio menoleh dengan tatapan kosong. Bersamaan, Fia mendengar alunan music box yang terus menerus terdengar perlahan semakin membuatnya larut dan mengikuti arah suara itu. Fia tersentak dan mulai sadara Rio telah hilang entah kemana. Telah dicarinya ke setiap sudut bangunan. itu. Tidak ada! Ia malah melihat sebuah kotak musik yang tertutup di atas meja. Fia mencoba masuk ke ruangan itu. Ruangan yang tampak seperti kamar seorang gadis kecil. Ketika Fia mendekat, Kota musik itu hilang. Ia terkejut ketika kotak musik tersebut terganti dengan sebuah foto. Dan buku bersampul biru kemerahan.

“Mama… Papa…! Mama…Papa…! Kalian masih ingat dengan ini? kado ulang tahun yang kalian berikan padaku waktu aku berumur lima tahun. Kalian memelukku. Menciumku. Tapi, Kalian… setelah itu membuatku tidak nyaman tidak tenang dengan rumah ini. Kalian terus bertengkar. Maaf aku ingin damai. Aku harus membuat kalian tertidur, dan aku hanya ingin kita semua hidup damai dan tenang aku janji akan melakukan hal yang sama jika seseorang mengusik kedamaian kita lagi di rumah ini.”

            Fia terkejut. Ia mulai mengerti kenapa rekan-rekannya ikut menghilang. Ini sebabnya, gadis pemilik musik box itu tidak ingin ada yang mengusik keluarganya lagi di dalam dunia barunya. Fia berlari meninggalkan kamar itu dan menghampiri rekan-rekannya yang lain.
            “Neo, Yaga, Ray, Fana, dimana kalian? Kita harus pergi dari sini….” teriak Fia setelah kembali ke posisinya namun keadaan sangat gelap.

Fia mencium bau amis, ia mencoba meraba cairan itu. Darah? Pekiknya. Lalu tak berapa lama cahaya putih sedikit menyilaukannya. Samar-samar ia melihat seorang gadis berambut panjang sembari tersenyum menatapnya dan menyeret tubuh Neo yang berlumuran darah.

Tr : Venny Eriska

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Perbedaan Sakit Kepala Biasa Dengan Vertigo

Teropongonline, Medan-Masih banyak orang yang menganggap semua sakit