Hati Dan Luka

Hati Dan Luka

- in Artikel
159
0

Teropongonline, Medan-Mungkin kedua kata ini sangat familiar ditelinga, dan sering diperbincangkan banyak khalayak. Memang benar saja, kata-kata ini sering bertemu dikala saat cemas menghampiri pikiran, ataupun ketika kalbu laki-laki dan wanita diselimuti kegundahan.

Akan tetapi saat tengah menjalin sebuah hubungan, mau itu pertemanan, ataupun juga asmara. Saat berjumpa pada titik dimana ada perasaan yang terluka, siapa yang tidak pernah merasakan hal itu. Mungkin salah satu diantara kita pernah mengalaminya, tetapi tanpa disadari, itu membuat kita terperosok ke dalam ruang patah hati, bahkan hingga tenggelam.

Hati merupakan organ vital tubuh manusia, yang seharusnya dijaga dengan baik sehingga tidak terkontaminasi akan hal-hal buruk, dan jahat terjadi. Namun bagaimana jika hati telah diracuni dan dilukai dengan rasa, pastinya laki-laki maupun wanita tidak akan nyaman dan bahagia, melainkan terkadang keyakinan yang telah dibangun sekian lama luntur begitu saja, bagaikan diterpa badai atas nama “pengkhianatan”.

Pernah tidak seseorang mengatakan personalitynya adalah seseorang yang baik, terbaik dan tidak pernah menyakiti lawan jenisnya. Mungkin seseorang tersebut sering kita jumpai dalam kehidupan, maupun aktivitas sehari-hari ya, dan hal itu percaya atau tidak, ucapan seperti itu adalah satu dari sekian banyak kata-kata menjebak, seakan berusaha menutupi untuk melakukan sebuah kebohongan.

Pada dasarnya makhluk hidup itu tidak luput dari kesalahan. Namun, ketika bagaimana ia mampu menginterpretasikan kesalahannya kepada seseorang dengan baik dan benar, itu merupakan sebuah tindakan yang dewasa, yang dapat menjelaskan keburukannya dalam menutupi kesalahannya.

Seperti yang dikatahan Tuhan dalam surat Yasin ayat 36, menciptakan manusia berpasang-pasangan dengan seseorang yang telah ditentukan, laki-laki dengan perempuan begitu sebaliknya. Namun hal itu, semua harus berdasarkan adanya landasan usaha. Seperti ketika tuhan memberikan hidayah kepada umatnya “manusia” maka ujiannya adalah seberapa besar usahanya dalam menggapai hidayah itu.

Begitu juga. Jika diibaratkan diantara kita ada yang menjalin sebuah hubungan, dan hanya jaraklah yang hanya mampu memisahkan untuk bertemu dan melepaskan rindu. Berarti usahanya juga semakin besar. Ya, semakin besar untuk menjaga kepercayaan masing-masing yang tengah menjaga rasa dan hati agar tidak terluka.

Terkadang, hal ini bagaikan kisah Romeo dan Julia, yang merupakan karya William Shakespeare asal benua Eropa tepatnya di Republik Italia. Yang mana ketika Romeo dan Julia dikisahkan sebagai pasangan yang romantis. Terdapat beberapa indikator yang mampu dijelaskan, seperti salah satunya memiliki rasa ingin saling memiliki sepenuhnya, hingga kematianlah yang dapat memisahkan.

Tentu itu sebagai catatan bagi kita. Mau itu laki-laki ataupun wanita, yang tengah menjalin hubungan asmara, terlebih apalagi ditengah pandemi sedang melanda, tentunya harus adanya komunikasi yang baik dan juga diimbangi kepercayaan.

Betapa tidak, Romeo dan Julia dengan segala hambatan yang dilaluinya, mulai dari tidak mendapatkan restu kedua orang tua, hingga terjadinya salah komunikasi diantara Romeo dan Julia, membuat kisahnya menjadi tragis. Sebab, Romeo dan Julia meninggal dunia dengan cara mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri pada usia yang masih tergolong sangat muda.

Tr: Muhammad Ryzki Alhaj
Sumber Foto : Google

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

9 Urutan Negara dengan Jumlah Penduduk Terbesar di Dunia

Teropongonline, Medan-Jumlah penduduk dunia saat ini (2021) diperkirakan mencapai