Warna Nada

Warna Nada

- in Dunia Sastra
336
0

Seorang tuna rungu, tak mampu mendengar apalagi berucap dia bernama Boo. Boo adalah anak yang dianggap kurang beruntung, ia lahir dalam keluarga yang kurang mampu. Bocah lelaki yang sejak lahir tidak bisa mendengar dan berbicara. Boo hidup di pedasaan bersama kedua orang tuanya dan adik perempuannya yang begitu lucu. Boo tidak menempuh pendidikan sama sekali karena orang tuanya tak mampu menyekolahkan di sekolah yang memfasilitasi kekurangannya tersebut.

Setiap pagi Boo pergi kekebun bersama ayahnya untuk ngurus perkebunan milik orang lain. Hari-hari Boo ditemani dengan cangkul, topi dan baju yang kumal, cahaya surya yang menyengat bahkan kerkadang air hujan menjadi teman dinginnya. Ibu Boo adalah seorang pedagang getuk keliling, berkeliling kampung manjajahkan geduk semabari menggendong si kecil Loli. “Getuk getuk getuk enak” teriakkan ibu Boo.

Ketika hari minggu tiba, Boo tak pernah pergi bermain layaknya anak seusianya. Boo tetap berada di rumah bersama adik kecilnya, sedangkan ayahnya pergi ke pasar menjadi kuli panggul. Boo sangat suka menggambar, namun gambaran Boo hanya warna warni abstrak. Sungguh banyak karya yang diciptakan oleh tangan Boo, semua tertempel rapi di dinding rumah reyotnya.

Tetangga Boo adalah seorang musisi lawas, setiap hari terdengar lantunan indah musik-musik. Pak Saman namanya, seorang duda yang hidup seorang diri. Rumah pak Saman bak istana alat musik. Boo senang sekali datang ke rumah pak Saman, bahkan orang tuanya sendiri pun bingung mengapa Boo suka berada di rumah duda tua itu padahal Boo tidak bisa mendengar apapun. “Pak, jagoan kita dimana?” Terdengar suara dari dapur “biasa bu, rumah pak Saman” jawab ayah Boo. Lantas ibu datang menghampiri ayah yang sedang menjaga Loli, “pak, kenapa ya Boo suka pergi kesana?” Ibu mulai heran “mungkin dia ingin menemani pak Saman bu” ayah menjawab tenang. 

Hari luang Boo dihabiskan di rumah pak Saman, kini Boo mulai membawa lukisannya. Pak saman pun tak mengerti apa yang dimaksud Boo saat Boo menunjukan lukisannya, “aku bukan seorang seniman lukis yang tau makna lukisanmu nak” ucap pak Saman perlahan.  Boo pun berlari ke arah berdirinya piano tua di tengah ruangan itu. Boo naik kekursi dan duduk layaknya seorang pianis handal. Pak Saman hanya menatap heran tentang kelakuan Boo. Kemudian Boo mulai menekan tuts demi tuts dan sesekali melirik lukisannya tersebut. Piano itu menghasilkan nada yang begitu indah, pak Saman tercengang dengan apa yang dia dengar. “Boo….apa apa ini…” Pak Saman tak sanggup berkata. Boo tersenyum manis kepada pak Saman dan berhenti memainkan piano itu. Pak Saman kemudian berlari ke rumah Boo yang hanya berjarak 5 meter dari rumahnya dan mengajak ayah ibu Boo untuk melihat apa yang terjadi.

Ayah dan ibu Boo ternyata tidak mengetahui kelebihan yang dimiliki anaknya. Boo memiliki kelebihan yang luar biasa yang mungkin tak dimiliki orang lain. Ayah dan ibu Boo sangat terharu dan bersyukur dengan kelebihan yang luar biasa yang disematkan Tuhan pada anaknya. Ternyata Boo dapat melihat warna-warna nada, setiap ada suara yang dapat didengar oleh manusia normal akan menjadi warna-warna yang berbeda di mata Boo. Setiap suara memiliki warna di matanya, semua lukisan yang dihasilkan Boo adalah lagu-lagu indah yang diciptakan Boo. Ini sebabnya Boo suka datang ke rumah pak Saman dan menyaksikan pak Saman memainkan alat musik, dan pada pianolah dia jatuh cinta.

Tr : Arum Sari Annar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Syarat Menjadi Wirausaha yang Sukses

Teropongonline, Medan-Steve Jobs, Walt Disney, Benyamin Franklin, Hans