Kebebasan Pers Masih Terancam

Kebebasan Pers Masih Terancam

- in Ragam
229
0

Teropongonline, Medan – Kebebasan dalam dunia Pers masih terancam, hal itu dibuktikan dengan masih banyaknya kasus kekerasan, ancaman, dan intervensi terhadap Jurnalis. Hal ini kembali terjadi pada Selasa (30/7/2019) di Provinsi Aceh.

Kali ini menimpa Jurnalis Harian Serambi Indonesia Asnawi Luwi di Kutacane, Aceh Tenggara. Ancaman diterima Asnawi berupa pembakaran rumah yang dilakukan oleh orang tidak dikenal (OTK) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari.

Dilansir dari Serambinews.com meski tidak ada korban dalam kejadian tersebut, namun ini menjadi momok dan menakut – nakuti insan pers di Aceh dalam menjalankan tugas sebagai Jurnalis.

Diceritakan Asnawi, kronologi terjadinya musibah tersebut berawal dari sekitar pukul 02.00 WIB ia mendengar teriakan dari rumah tetangga dan memberitahu rumahnya terbakar. Kemudian Asnawi terbangun dan ruang tengah rumahnya sudah penuh asap. Asnawi dan keluarga dengan sigap keluar rumah lewat pintu belakang.

Menurutnya, rumahnya diduga kuat bukan terbakar karena korsleting listrik tetapi sengaja dibakar orang tak dikenal. Dugaan itu muncul karena beberapa hari sebelum kejadian, rumah Asnawi pernah didatangi oleh orang yang tak dikenalnya dan meminta nomor kontaknya kepada keluarga Asnawi sambil mengelilingi sekitar rumahnya.

Ketika itu Asnawi sedangbRapat Kerja (Raker) di kantor redaksinya di Banda Aceh. Disamping itu, Senator H. Fachrul Razi, MIP yang juga pimpinan Komite I DPD RI yang membidangi masalah Hukum, Media, dan Kominfo menduga kuat bahwa pembakaran rumah Asnawi terkait dengan pemberitaan yang sering ditulisnya di Aceh Tenggara seperti Ilegal Logging, pajak galian C, maraknya judi jackpot, kasus jalan Muara Situlen, kasus Monografi Desa, dan beberapa kasus lainnya.

Menanggapi hal ini, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Medan Liston Damanik mengatakan mendorong pihak Kepolisian setempat untuk mengungkap kasus ini sehingga Jurnalis yang menjadi korban mendapat keadilan. Dirinya juga beranggapan bahwa pembakaran rumah Jurnalis ini juga dimaknai sebagai lonceng berbahaya bagi kebebasan pers di Indonesia.

” Setiap terjadi kasus kekerasan terhadap Jurnalis kita berharap penegak hukum dapat mengungkap pelaku dan menghukumnya. Kekerasan terhadap Jurnalis terus terjadi karena banyaknya kasus kekerasan yang menggantung sehingga menjadi preseden buruk bagi kebebasan pers. Selain itu, kami juga berharap perusahaan pers, dewan pers, dan organisasi profesi dapat berkolaborasi dengan baik untuk menanggulangi kasus kekerasan terhadap Jurnalis ini, ” jelas Liston

Memang bukan menang, seharusnya kebebasan pers yang sudah tertuang dalam Undang – undang Nomor 40 Tahun 1999 dapat menjadi pedoman bagi masyarakat dan insan pers agar tidak terus terulangnya kejadian yang serupa.

Reporter : Melisa Sanz Siregar

Sumber Foto : Merdeka.com

About the author

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Sudut Pandang Mahasiswa Terhadap Privilege dari Good Looking

Teropongonline, Medan – Berpenampilan menarik saat ini kerap