Konsentrasi Kelompok Massa Anti Makar di Bawaslu Sumut Timbulkan Pertanyaan

Konsentrasi Kelompok Massa Anti Makar di Bawaslu Sumut Timbulkan Pertanyaan

- in kabar medan
430
0

Teropongonline, Medan – Kantor Badan Pengawas Pemilu Sumatera Utara (Bawaslu Sumut) pada Jum’at (10/05/2019) dikepung kedua kelompok massa. Masing – masing mereka dari kelompok Gerakan Masyarakat Anti Makar Sumut (GEMAS) yang bergabung bersama Solidaritas Rakyat Anti Makar (SERAM) dan kelompok lainnya yaitu Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) Sumut.

Kelompok massa GEMAS dan SERAM tiba terlebih dahulu di depan Kantor Bawaslu Sumut sebelum waktu ibadah sholat Jum’at. Koordinator Aksi GEMAS, Junhaidal Samosir menjelaskan bahwa kehadiran mereka di Kantor Bawaslu Sumut guna mendukung dan mengawal Bawaslu Sumut agar terlindungi dari berbagai intervensi yang mengatakan bahwa KPU dan Bawaslu tidak netral.

” Kita hadir disini untuk mendukung Bawaslu Sumut dalam menjalankan tugasnya. Jangan takut dengan intervensi dari pihak tertentu yang mengatakan Bawaslu dan KPU tidak netral,” kata Junhaidal.

Massa GEMAS hadir diperkirakan berjumlah ribuan orang serta tampak masing – masing dari mereka membawa tongkat bambu dan spanduk yang bertuliskan tolak people power dan menuding Romo Syafii yang merupakan Caleg DPR RI Dapil Sumut dari Partai Gerindra sebagai pemecah belah bangsa.

Pihak Kepolisian dari Polrestabes Medan menutup sejumlah ruas jalan sebab massa GEMAS menguasai semua titik akses menuju Kantor Bawaslu Sumut. Tugu Adipura, Jalan. H. Adam Malik ke arah Bundaran SIB, Jalan. H. Adam Malik ke arah Glugur dan Jalan. T. Amir Hamzah berhasil mereka duduki.

Usai ibadah sholat Jum’at massa dari GNPF Ulama Sumut bergerak dari titik kumpul mereka di Masjid Raya Al – Mashun menuju Kantor Bawaslu Sumut. Namun, massa GNPF Ulama tertahan oleh barikade polisi di depan gedung Indako Development Centre radius beberapa ratus meter dari Tugu Adipura. Pihak Kepolisian melakukan barikade dan memarkirkan kendaraan pengurai massa guna menghindari terjadinya bentrok antara massa GNPF Ulama dengan massa GEMAS yang sudah menunggu sejak sebelum sholat Jum’at.

Situasi sempat memanas, pasalnya massa GNPF Ulama ingin melakukan orasi di depan Kantor Bawaslu Sumut sedangkan massa GEMAS tidak ingin membubarkan diri dengan dalih ingin melindungi Kantor Bawaslu Sumut. Massa GEMAS sempat ingin mendekati massa GNPF Ulama dengan membawa senjata berupa tongkat bambu dan kayu. Namun, hal ini berhasil diredam oleh pihak Kepolisian.

Kapolrestabes Medan, Kombes. Pol. Dadang Hartanto yang turun langsung ke lokasi kejadian turut meredam kedua kelompok massa agar terhindar dari bentrokan. ” Kita mohon semuanya untuk dapat menahan diri dan tenang. Kita pihak Kepolisian netral disini. Kita mohon agar tidak terjadi hal – hal yang tidak kita inginkan bersama. Semuanya berhak menyampaikan aspirasinya di muka umum,” ujarnya.

Sebelumnya, beredar kabar bahwa aksi di hari Jum’at di depan Kantor Bawaslu Sumut akan dilakukan oleh GNPF Ulama Sumut. Namun secara tiba – tiba kelompok massa yang menamakan diri Gerakan Masyarakat Anti Makar Sumut (GEMAS) turut melakukan aksi sebelum massa GNPF Ulama. Memang diketahui, beberapa hari sebelumnya massa GEMAS telah melakukan aksi di sekitaran Hotel JW Marriott Medan.

Setelah dilakukan negosiasi akhirnya massa GEMAS membubarkan diri tepat ketika adzan ashar berkumandang dan massa GNPF Ulama mundur untuk melakukan sholat ashar. Setelah ba’da ashar giliran massa dari kelompok GNPF Ulama Sumut yang melakukan aksi mereka tepat di depan Kantor Bawaslu Sumut.

Ketua Umum GNPF Ulama Sumut Ustadz H. Heriansyah dalam orasinya mengatakan bahwa Pemilu 2019 telah terbukti dan nyata dilakukan dengan segala penyimpangan, kecurangan, dan kejahatan yang secara terstruktur, sistematis, masif, dan brutal. Dirinya menuding bahwa seluruh perbuatan penyimpangan, kecurangan dan kejahatan Pemilu 2019 nyata telah melibatkan dan patut diduga diprakarsai oleh Paslon 01 yang juga berkapasitas sebagai petahana.

” Ini adalah Pemilu yang paling jahat dan brutal. Berbagai macam kecurangan dipertontonkan secara nyata di hadapan kita. Demokrasi kita telah benar – benar di cederai. Maka dari itu, kami meminta untuk Bawaslu segera memproses semua dugaan dan bukti – bukti kecurangan di Pilpres 2019 ini. Diskualifikasi pasangan calon 01 Joko Widodo dan Ma’ruf Amin,” tegas Heriansyah.

Di samping itu, salah satu Pimpinan Aksi GNPF Ulama Sumut Ustadz Rafdinal menyayangkan kehadiran massa yang menamakan diri GEMAS dan tidak memperlihatkan etika dan kesopanan yang baik selama melakukan aksi.

” Kita lihat tadi ada kelompok massa yang tidak tahu aturan dan kesopanan selama melakukan aksi sebelum kita. Mereka makan dan minum disini padahal tahu saat ini sedang bulan Ramadhan. Semua tanaman di sekitaran sini rusak akibat diinjak – injak oleh mereka. Kita jangan seperti itu, mari kita tunjukkan adab seorang muslim yang baik. Jangan sentuh dan pijak tanaman atau rumput yang disekitar kita. Kita tunjukkan bahwa Islam Rahmatan Lil Alamin,” teriaknya dari mobil komando.

Setelah beberapa saat ditunggu kehadirannya, Ketua Bawaslu Sumut Syafrida R Rasaha turut hadir di tengah – tengah peserta aksi dan naik ke mobil komando guna menampung aspirasi yang disampaikan oleh GNPF Ulama Sumut.

” Saya terima semua aspirasi dari saudara – saudara sekalian. Semua dugaan kecurangan dalam Pemilu 2019 akan segera kita proses. Kami bekerja menurut undang – undang. Tidak mungkin jika ada laporan dugaan kecurangan tidak kita proses. Tapi kami mohon untuk bersabar. Saat ini proses rekapitulasi suara oleh KPU Sumut belum selesai. Saudara – saudara sekalian masih dapat mengawalnya. Salah satu contohnya kemarin di Tapanuli Tengah, kita menerima laporan adanya dugaan kecurangan dan viral. Setelah itu langsung kita adakan penghitungan suara ulang,” jelas Syafrida dihadapan ratusan massa aksi.

Selain itu salah satu peserta aksi, Muslim mengaku heran dengan kehadiran massa GEMAS yang sudah menduduki Kantor Bawaslu Sumut sebelum GNPF Ulama.

” Izin kita melakukan aksi itu jelas setelah ba’da Jum’at. Makanya kita heran begitu tadi tiba disini kok di barikade polisi dan ada massa yang berseberangan dan ingin melawan kami. Ada apa ini sebenarnya. Siapa mereka itu dan berasal dari mana kita tidak tahu,” tuturnya.

Reporter : M. Agung Safari Harahap

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Syarat Menjadi Wirausaha yang Sukses

Teropongonline, Medan-Steve Jobs, Walt Disney, Benyamin Franklin, Hans