Arti Corak Rumah Adat Batak Toba Samosir

Arti Corak Rumah Adat Batak Toba Samosir

- in kabar medan
807
0

Teropongonline, Medan – Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang terbesar di dunia. Indonesia memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah, juga dengan keberaneka ragam agama, suku, ras, budaya dan adat istiadat. Tak ketinggalan rumah adat tradisional dari setiap daerah di Indonesia yang sangat banyak jumlahnya dan berbeda pula rupa dan makna menurut para petuah setempat. Di Pekan Raya Sumatera Utara ke-48 yang dimana pestanya rakyat, menampilkan beragam rumah adat dari setiap daerah yang ada di Sumut yang dikemas seperti rumah kecil (Paviliun). Salah satunya ialah rumah adat batak Toba Samosir, berbentuk kerucut dan memiliki arti dari setiap corak yang melekat pada rumah tersebut.

Suherman selaku penanggung jawab Paviliun Kabupaten Toba Samosir mengungkapkan arti satu persatu corak yang ada pada rumah adat Toba Samosir saat ditemui Kru Teropong Selasa, (02/04/19) malam di PRSU yang terletak di Jalan Gatot Subroto No.238, Medan. Seperti halnya corak kepala kerbau, cecak, kuda ditunggangi pemuda batak dan warna yang terdapat pada corak gambar yang ditampilkan. “Rumah adat Tobasa berbentuk kerucut memiliki arti atap yang menjulang tinggi, di bagian depan melambangkan anak, sedangkan yang rendah melambangkan orang tua dan orang tua dari suku batak sangat berharap anak mereka lebih maju serta sukses dalam segala hal,” ungkapnya.

Menurutnya, lambang kepala kerbau atau dalam bahasa daerahnya ‘horbo’  melambangkan kekuatan Batak Toba. Ia juga menambahkan secara keseluruhan rumah adat Tobasa sama halnya dengan rumah adat lain yang memiliki moto secara garis besar. “Toba Samosir juga memiliki moto atau ciri khas  yang dimiliki setiap Kabupaten seperti  kata ‘tampakna do rantosna’ yang artinya kebersamaan mencerminkan kekuatan dimana pun mereka berada begitu juga dengan corak cecak yang bermakna pemuda batak dapat beradaptasi dimana saja dan kapan saja,”tambah Suherman.

Provinsi Sumatera Utara memiliki enam suku batak yaitu, Toba, Karo, Pakpak, Angkola, Simalungun dan Mandailing. Dalam suku batak terdapat beragam corak atau disebut ‘gorga’ yang dimana bahasa daerahnya dipakai untuk menghiasi rumah adat dan pakaian namun memiliki tiga warna yang sama digunakan seperti, cat merah, cat putih dan cat hitam.

Pun begitu, ia juga menjelaskan arti corak kuda yang ditunggangi pemuda batak memiliki kisah perjuangan dalam berdirinya bangsa Indonesia. “Corak kuda yang ditunggangi oleh pemuda batak melambangkan bahwa dibalik sejarahnya sebelum bangsa Indonesia ada, bangsa batak sudah ada karena suku batak ini sudah terorganisir seperti kelendernya ada aksara arab dan ada benderanya ada. Bangsa batak sudah ada sebelum bangsa Indonesia berdiri dan dalam suku batak itu ada semacam ‘matarombo’ yang merupakan silsilah dari bermacam marga yang kita ketahui pada saat ini,”jelasnya.

Suherman berharap dengan usia Kabupaten Toba Samosir yang sudah genap berumur 20 tahun pada Jumat, (09/03/19) lalu, semoga desnitasi wisatanya terus berkembang dan menarik perhatian wisatawan agar Sumatera Utara begitu juga dengan suku batak dapat dikenal banyak orang. Beberapa destinasi wisata yang ada di Tobasa pun katanya sedang diperbaiki.  “Destinasi seperti Pantai Bul Bul atau Hotel Labersa yang berada di Balige masih dalam proses tahap pembangunan, ya itu semakin dipercantik lah untuk menarik para wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Sumut yang kaya akan suku bataknya,”pungkasnya.

Reporter : M Rizky Alhaj

Editor : Fuad Saleh Madhy

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

5 Website Kursus Online Gratis Bersertifikat

Teropongonline, Medan-Kursus online semakin menjadi andalan untuk meningkatkan keahlian dan