Yoseph : Jurnalisme Tetap Abadi

Yoseph : Jurnalisme Tetap Abadi

- in Kabar Kampus, kabar medan
338
0

Teropongonline, Medan – Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prasetya menilai meskipun tantangan digitalisasi media semakin berkembang akan tetapi jurnalisme akan tetap abadi. Apalagi salah satu hal yang paling menjadi sorotan adalah informasi tersebar cepat luas melalui media sosial.

“Saya rasa masyarakat sudah jenuh kepada yang namanya media sosial karena media sosial itu tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Orang akan menuju kembali kepada media yang kredibel yaitu media mainstream seperti, media cetak, online dan seterusnya. Menurut saya jurnalisme itu akan tetap abadi,” pungkasnya.

Ia juga menambahkan bahwa media mungkin akan berubah platform dan jurnalisme akan abadi, tetapi itu membutuhkan wartawan yang profesional. Menanggapi perihal media cetak yang terbelit masalah seperti tutup dan tidak terbit lagi, menurut Yoseph ada dua hal yang menjadi persoalan didalam media cetak tersebut.

“Ada dua hal yang membuat media cetak itu bangkrut, kalau tidak harga bahan baku yang semakin tinggi ya salah kelola atau miss management,”tambahnya.

Kemudian, Yoseph mengungkapkan bahwa masyarakat masih membutuhkan media cetak, cuma memang ada lilitan ekonomi dimana membuat salah satu bahan baku media cetak yaitu harga kertas melambung tinggi.

“Dua tahun belakangan ini sebanyak 27 persen harga kertas naik, ini nggak masuk akal. Sebagai bentuk upaya dukungan kita akan mendukung teman-teman Serikat Perusahaan Pers (SPS) dalam melakukan audiensi dengan Presiden dan Menteri Perindustrian agar diberikan subsidi kertas,”ungkap Yoseph saat konfrensi pers dengan awak media setelah acara seminar jurnalistik usai pada Kamis, (14/03/19) pagi.

Mengenai media online, Ketua Dewan Pers menyebutkan bahwa media cetak masih tetap profesional dan selalu menyertakan sumber yang jelas, beda dengan online. “Dibisnis oniline ini banyak ribuan media yang tidak jelas, tidak berbadan hukum tidak memenuhi standrat SPS. Sehingga para pengiklan misalnya ragu-ragu, saya pasang iklan disini ada manfaatnya atau tidak. Ya kalau iklan nomor satu itu tetap media cetak, baru nomor dua televisi. Selama para pelaku bisnis ke media cetak, media cetak akan tetap hidup,” ujar Stanley yang merupakan sapaan akrabnya.


Publik Tidak Cukup Miliki Informasi Dalam Pemilu 2019

Tak kurang dari sebulan lagi, Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019 serentak akan bergulir dan menentukan siapa yang layak menjadi pemimpin negara maupun calon wakil rakyat. Polemik media-media yang berpihak kepada salah satu partai politik, menyebabkan publik tidak miliki informasi yang cukup untuk memilih wakil mereka.

Menanggapi hal tersebut, Yoseph mengatakan bahwa hal itu sah- sah saja tetapi juga harus dengan ketentuan-ketentuan tertentu. “Kami memperbolehkan, tetapi dalam ruang editorial tertentu. Didalam pemberitaan tetap berlaku kode etik jurnalistik seperti, cover both side, balance for reporting dan itu kita perbolehkan. Tapi kalo ada media yang bergabung dengan partai politik itukan berarti corongnya partai, nanti akan diukur publik, siapa yang akan membaca itu,”pungkasnya.

Dalam persepsi yang seperti itu, Yoseph menambahkan beritakan saja siapa nanti yang baik dan didukung oleh salah satu media untuk publik. “Ubah corong yang misalnya untuk paslon 01 Jokowi dan paslon 02 Prabowo,”tambahnya.

Media-media banyak dimiliki oleh partai yang turut didalamnya menjadi tim sukses sehingga timbul persaingan-persaingan. Dengan begitu, Yoseph menilai publik tidak memiliki informasi yang cukup untuk memilih siapa wakil-wakil mereka di Pemilu nanti.

Reporter : Fuad Saleh Madhy

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Sudut Pandang Mahasiswa Terhadap Privilege dari Good Looking

Teropongonline, Medan – Berpenampilan menarik saat ini kerap