Kasus Kejahatan Anak Dalam Ranah Hukum Harus Jelas

Kasus Kejahatan Anak Dalam Ranah Hukum Harus Jelas

- in Kabar Kampus
352
0

Teropongonline, Medan – Rentetan kasus kejahatan anak yang semakin merajalela harus memiliki dasar yang jelas dalam ranah hukum. Azmiati Zuliah SH, MH selaku ketua koordinator unit Pusat Layanan Informasi dan Pengaduan Anak Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PUSPA PKPA) mengingatkan betapa pentingnya mengetahui peran Pekerja Sosial (Peksos) dalam mengatasi kasus kejahatan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum.

“Kasus anak sebagai pelaku terhadap suatu kejahatan dapat ditahan memiliki beberapa kategori salah satunya adalah telah berumur 14 tahun dan melakukan tindak pidana dengan hukuman tujuh tahun penjara ataupun lebih,”ungkapnya.

Anak sebagai pelaku kejahatan tidak serta merta harus ditahan ataupun dipenjarakan melainkan direhabilitasi, sebab kata Azmiati seorang anak masih memiliki harapan besar untuk masa depan yang lebih baik dan berguna bagi suatu negara. “Proses penahanan seorang anak yang menjadi pelaku kejahatan harus dibedakan tempat penahannnya bukan di lembaga permasyarakatan umumnya karena itu khusus bagi orang dewasa, melainkan harus di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LKPA),”katanya saat menyampaikan materi seminar jurusan HMJ IKS FISIP UMSU pada Selasa,(12/03/19).

Kemudian ia mengibaratkan seperti kejadian kasus sodomi beberapa anak di Deli Tua dan salah satu pelaku merupakan seorang anak-anak juga. “Peran Pekerja Sosial (Peksos) dalam menangani kasus ini adalah mencari laporan atau sumber informasi yang akurat agar peran mereka dalam mendampingi korban dan saksi itu berhasil. Pelaku kejahatan sodomi yang mendampinginya ialah Badan Pemasyarakatan (Bapas) dan melakukan pembinaan agar pelaku menyadari kesalahan dan dapat kembali menjalani fungsi sosialnya dimasyarakat dengan baik,”jelasnya.

Penyelesaian kasus seperti sodomi itu mewajibkan yang namanya diversi dengan pendekatan keadilan restoratif. “Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses diluar peradilan pidana dan hubungannya terhadap pendekatan keadilan restoratif adalah penyelesaian masalah dengan ini dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku dan korban dan pihak lain yang terkait untuk sama-sama penyelesaian yang adil dan bukannya pembalasan,”kata Azmiati.

Dan juga lain halnya dengan kasus seorang anak yang menjadi bandar narkoba, hal tersebut dikarenakan prosesnya harus cepat dan kepastian hukum harus jelas.
“Kasus anak seorang bandar narkoba misalnya berumur 14 tahun tidak perlu melakukan proses diversi maka wajib ditahan sebab dimana anak tersebut telah merugikan negara. Maka pelimpahan berkas kasus ini dilakukan cepat agar pelaku mendapatkan kepastian hukum atas tindakan yang telah ia perbuat. Hukuman bagi seorang anak setengah dari hukuman orang dewasa,”pungkasnya.

Reporter : Muhammad Rizky Alhaj

Editor : Fuad Saleh Madhy

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Tersingkir di UCL, Barcelona Resmi Turun Kasta

Teropongonline, Medan-Barcelona dipastikan terdepak dari Liga Champions musim