Rocky: “Komunikasi Harus Setara dengan Budaya”

Rocky: “Komunikasi Harus Setara dengan Budaya”

- in kabar medan
421
0

Teropongonline, Medan – Program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara adakan kuliah umum bertema, “Melawan Hoaks dengan Komunikasi Akal Sehat” di Auditorium Pascasarjana Jl. Denai No 217 Medan. Rabu, (23/01/19).

Hadir selaku narasumber dalam kegiatan adalah seorang pengamat politik dan ahli filsafat Rocky Gerung. Ia mengatakan komunikasi harus setara dengan budaya untuk memberantas hoaks.

“Sistem itu adalah kombinasi antara aktivitas rasional dan aktivitas hegemoni kebenaran. Hal itu normal karena kekuasaan selalu ingin efisien. Dan dia akan kendalikan ekonomi serta pasar. Dia akan memastikan ada keutuhan didalam rezimnya,”kata Rocky.

Rocky membahkan bahwa sistem selalu mengevaluasi dirinya agar semakin kokoh. Begitu juga dengan budaya yang sebaliknya hidup dalam kesetaraan. Oleh karena itu komunikasi dengan budaya harus mengalami kesetaraan.

“Didalam kekuasaan tidak boleh ada kesetaraan, harus ada hirarki. Permasalahannya kalau sekarang sistem ini cara berpikir hirarki. Hakikat dari budaya universitas adalah kritik, satu satunya mata uang didalam universitas namanya argumen. Argumen adalah mata uang pikiran. Saya bertransaksi dengan rupiah melalui fasilitas yang namanya elektabilitas,”imbuhnya.
.
Berbeda dengan wilayah kebudayaan, Rocky mengatakan kalau ia bertransaksi melalui pikiran. Karena itu harus dihargai. “LSM, Pers, Universitas adalah budaya, Kementrian adalah state, pasar adalah ekonomi. Sekarang selalu ada keinginan untuk mengkolorisasi budaya supaya ikut dengan metode kekuasaan. Supaya itu tidak terjadi, ada wilayah yang disebut parisien (universitas) yang harus otentik. Disitulah diolah argumen,” kata Rocky.

Pengamat politik ini juga menjelaskan fungsi dari universitas yaitu mengolah argumen publik. “Ya kalau itu terjadi demokrasi kita aman, karena itu dianggap bahwa demokrasi selalu memiliki potensi untuk dimenangkan oleh orang dungu dan siapapun boleh tampil sebagai pemimpin publik,”jelas Pria berumur 60 tahun tersebut.

Yang jadi persoalan kata Rocky adalah kalau parisien itu tidak diaktifkan oleh akademisi dan jurnalis. Seandainya pemerintah ini dikendalikan oleh sidungu bila universitas tidak masuk dalam penemuan, jurnalis juga, demokrasi juga masih tetap jalan.

Rocky mengemukakan bahwa peran pers dan teori komunikasi menjadi persoalan besar jika tidak ada. “Pers adalah pilar keempat dari demokrasi, tidak ada jurnalis itu persoalan besar. Teori komunikasi juga begitu, ilmu komunikasi adalah ilmu sosial dan ilmu tertinggi diantara ilmu-ilmu, karena ilmu ini mendistribusikan keadilan,”pungkasnya.

Melihat keadilan Rocky merasa pemerintah perlu mengkaji ulang tentang menghitung angka kesenjangan dalam masyarakat. Pasalnya, melihat keadaan sekarang tidak seperti argumen yang disampaikan. “Kadang jurnalis tidak mau bahas, seniotik atau dasar dari penghitungannya itu apa. Tidak ada kesenjangan kemiskinan tetapi misal dompet saya lebih tebal dari mahasiswa, atau pengusaha yang beratus ratus tebalnya dari kita berdua dengan pengeluaran yang sama. Pemerintah tidak punya cara untuk menghitung itu, dimanipulasilah dengan berbagai cara,”paparnya.

Selain itu Rocky mengatakan bahwa keadilan adalah hal berbeda dari satu mata ke mata yang lain. Keadilan sesuatu hal yang rumit. “Keadilan itu bukan sekedar kemampuan untuk membagikan hasil ekonomi. Tapi kemampuan untuk empati, membaca keadaan, keadilan ada didalam tatapan mata antar manusia, baru kita merasakan ada misteri dan ada juga penderitaan,”katanya.

Fungsi public opinion (mahasiswa generasi) kata Rocky adalah membaca, yaitu membaca politik dengan cara senyum. Supaya kita tahu dimana disembunyikan terus itu.

“Itu yang seharusnya dilakukan semua universitas oleh jurnalis. Karena sensasi itu dianggap sebagai membahayakan kekuasaan. Jadi hanya didalam kesetaraan argumen ada kejujuran komunikasi atau idils speach situation. Ketiadaadilan situasi menandakan ada distortik komunikasi. Ini terjadi karena ada intervensi dari mereka yang surplus kekuasaan,”paparnya.

Lanjutnya, ia menjelaskan perihal hoaks untuk menghalangi surplus kekuasaan dari pihak oposisi. Hoaks adalah upaya untuk menjamin akumulasi kekuasaan dari pihak oposisi. “Jadi hoaks itu dipergunakan oleh dua pihak, oposisi menghalangi, intervensi dengan menebarkan hoaks karena public opinion tidak jujur,”lanjut Rocky.

Diakhir acara Rocky sempat menyampaikan pesan bahwa kekuasaan menyebar hoaks berupaya untuk membengkakkan power. Demokrasi kita terlihat membengkak tetapi tidak bertumpu. “Jadi kita ingin cairkan bekuan dalam pembuluh darah demokrasi dengan memulai apa yang boleh kita sebut pertemuan akal sehat dari kampus ke kampus. Disini ada ruang untuk menguji argumen, yaitu universitas. Jadi oposisi dan kampus itu melakukan fungsi yang sama yaitu kritis,”tutupnya.

Reporter : Nofia Rizki Sitorus

Editor : Fuad Saleh Madhy

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Tersingkir di UCL, Barcelona Resmi Turun Kasta

Teropongonline, Medan-Barcelona dipastikan terdepak dari Liga Champions musim