Nasib Industri Perfilman Asli Medan Masih Minim

Nasib Industri Perfilman Asli Medan Masih Minim

- in Kabar Kampus
341
0

Teropongonline, Medan – Fanatisme pada hasil karya asli daerah sendiri terkhusus Kota Medan masih terbilang minim. Cipta Kesuma menyayangkan mengapa itu bisa terjadi, hal tersebut diungkapkannya saat menjadi pemateri Rabu Diskusi Anak Komunikasi (Radiasi) pada Rabu, (16/01/19) di Laboratorium Penyiaran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

Selaku Concept Creative Film, Cipta mengatakan industri perfilman daerah Medan kurang bergairah, minim dan tidak fanatisme. Sehingga apresiasi hasil karya anak daerah kurang diapresisasi karena tidak ada wadah untuk menyalurkannya.

“Fanatisme untuk mengeksplor wisata di daerah kita juga masih kurang, itu berdampak pada apresiasi hasil karya film anak daerah. Daerah lain kuat, semisal saja lebih bangga pergi ke luar negeri contohnya Jepang ketimbang Danau Toba,”kata lelaki berdarah batak campuran sunda itu

Cipta mengaku sejak berumur sembilan tahun sudah memiliki keinginan menjadi seorang Concept Creative Film. Bahkan ia mengakui pekerjaan yang dilakukannya selama ini berawal dari kegelisahan terhadap impiannya. Selain itu, dulunya Cipta hanya mengutamakan realistis ketimbang idealis dalam menjalani kehidupannya.

“Pemuda sekarang berada dalam situasi realistis dan idealis. Saya awalnya berada disituasi realistis. Hingga saya berproses dan berubah menjadi pemuda yang mengutamakan idealis,”ujarnya.

Lanjutnya, pemuda saat ini tidak boleh memikirkan hasil karyanya sebelum memulai. Karena itulah suatu proses kita agar dapat menghasilkan karya-karya yang baik. “Saya tidak memulai dengan memikirkan hasilnya, saya memulai tanpa memikirkan hasilnya,”cetus Pria yang juga akrab disapa Tata.

Cipta sempat mengalami depresi terkait pengalaman hidupnya dalam menghasilkan karya. “Pada saat awal memulai menghasilkan karya saya memutuskan untuk merantau ke ibukota awalnya. Dalam proses beradaptasi disana saya merasa gagal dan depresi untuk memulai menghasilkan karya,”ceritanya.

Kota Medan awam dengan dunia perfilman, Cipta ingat saat mengikuti casting pertamanya ia dikenakan Rp 50.000 untuk biaya pendaftaran. Dalam proses casting seharusnya tidak dikenakan biaya.

“Seharusnya proses casting tidak dikenakan biaya, hal ini sudah menyalahi aturan. Namun seperti yang saya katakan pada saat itu saya sendiripun masih awam dengan dunia perfilman, belum tahu pasti aturan tersebut,”jelasnya.

Ide Pokok Adalah Kunci Penulisan

Kegiatan ini juga dilanjutkan dengan sesi tanya jawab kepada peserta. Pertanyaan menarik berasal dari Wika salah seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi. Ia menanyakan perihal mendapatkan tulisan yang berkarakter.

Hal tersebut disampaikan Wika karena ia sudah mengirimkan tulisannya ke beberapa pihak perindustrian film. Namun menuai komentar terhadap tulisannya yang tak berkarakter.

Menanggapi perihal tersebut, Cipta mengatakan bahwa semua tulisan itu bagus namun tergantung keinginan pasar. Menurutnya juga kadang beberapa tulisan idealis milik kita tidak cocok dengan keinginan pasar serta keinginan pihak publisher.

Selain itu ia juga menambahkan bahwa kunci penulisan itu adalah ide pokok. “Ide pokok adalah kunci memperkuat penulisan kita, literasi mempengaruhi aksara kosa kata. Kebutuhan kita dan publisher berbeda karena sulitnya masyarakat indonesia untuk menerima kata-kata yang cerdas,”tambahnya.

Cipta juga menekankan agar kita sebagai generasi muda untuk dapat bekerja cerdas bukan bekerja cerdas. “Kerja cerdas bukan dengan kerja keras. Mimpi semakin dekat, sekarang saya sudah menduduki mimpi saya. Mimpi saya mengejar saya, bukan saya yang mengejar mimpi,”imbuhnya lagi saat menyampaikan materi dihadapan puluhan peserta.

Reporter : Clara Wirianda

Editor : Fuad Saleh Madhy

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Tersingkir di UCL, Barcelona Resmi Turun Kasta

Teropongonline, Medan-Barcelona dipastikan terdepak dari Liga Champions musim