Vihara Maitreya, Destinasi Wisata Religi Cermin Toleransi Beragama

Vihara Maitreya, Destinasi Wisata Religi Cermin Toleransi Beragama

- in kabar medan
493
0

Teropongonline, Medan – Medan termasuk salah satu kota tujuan wisata dengan beragam destinasi memukau. Wisata sejarah dan kulinernya menjadi sektor yang diandalkan pemerintah namun bukan berarti wisata religinya juga tak patut dipertimbangkan. Maha Vihara Maitreya dapat dijadikan pilihan bagi siapa saja yang ingin melakukan wisata religi. Vihara terbesar di Indonesia ini tak hanya menyajikan keindahan design bangunan saja namun juga toleransi umat beragama antar masyarakatnya yang begitu tinggi.

Terletak di Cemara Asri tepatnya di Komplek Perumahan Cemara Asri Nomor 8 Jalan Cemara Boulevard Utara Medan Estate Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara, vihara ini dibangun 10 tahun lalu. Proses perencanaanya telah berlangsung sejak 1997 dengan peresmian tepat pada Agustus 2008. Vihara seluas dua hektar ini memiliki tiga gedung utama dengan tiap gedung memiliki fungsinya masing-masing.

Metta Virya (22), salah satu staf Vihara Maitreya menjelaskan jika gedung pertama difungsikan sebagai kantor sekaligus tempat pelatihan Dharma. Sementara di gedung kedua atau gedung tengah terdapat patung buddha Maitreya ukuran tiga meter tempat sembahyang umat Budha. “Selain patung Budha vihara ini juga punya tiga patung utama ukuran lima meter lainnya yaitu Sakiamuni, Avalo Kitaspara, dan Satiakalama. Jika ada pertemuan daya tampungnya sampai 2000 orang,” jelas Metta sembari menunjukkan tiap-tiap ruang.

Kesan ramah dapat ditangkap pengunjung saat melihat patung Buddha Maitreya sebab ciri khasnya penuh dengan senyuman. “Senyum Budha ada filosofinya, jadi begitu pengunjung masuk siapa pun mereka, akan merasa sangat welcome di vihara ini,” tambah Metta.

Maha Vihara Maitreya bukan sekedar tempat untuk umat Budha beribadah saja, namun sudah menjadi salah satu ikon wisata religi di Kota Medan. Eksistensinya terus berkembang setelah 10 tahun resmi berdiri. Selain letaknya yang strategis, Maha Vihara Maitreya ini juga dikelilingi oleh pemandangan alam berupa taman-taman yang sejuk dan indah. Masyarakat yang ingin berkunjung tak perlu mengeluarkan biaya terlalu mahal sebab Maha Vihara Maitreya ini memang dikonsep agar ramah bagi wisatawan.

Misalnya saja ketika menjelang Imlek, wisatawan baik lokal maupun mancanegara disarankan untuk berkunjung kesini. Maha Vihara Maitreya akan menyuguhkan pemandangan cantik serta spot-spot foto menarik. Metta mengatakan bila pihak manajemen vihara ingin tak sekedar membuat orang yang beribadah merasa nyaman saja namun juga sekaligus memperkenalkan budaya Tionghoa.

“Kalau datang  waktu imlek Maha Vihara Maitreya  ini lebih cantik.  Gerbang depan selalu di dekorasi dengan sedemikian indah dan lampion-lampion akan diapasang. Biasanya wisatawan yang berkunjung akan tertarik melakukan swafoto. Kita juga harus uptodate jadi orang kesannya Maha Vihara Maitreya ini gak terlalu formal,” kata Metta.

Selain perayaan Imlek, Maha Vihara Maitreya juga lebih semarak ketika melaksanakan festival Kue Bulan. Festival selalu dilaksanakan pada bulan Agustus atau Sepetember. Metta menambahkan jika acara yang diselenggarakan tentu beragam termasuk panggung rakyat dan bazar.

“Penyelenggaranya dari kami, tapi yang datang bebas karena dibuka bagi masyarakat umum secara gratis. Fokus acara tentu sembahyang di malam hari memohon berkat kepada Dewi Bulan, tetapi untuk masyarakat disediakan acara-acara menarik seperti pameran dan live musik. Ada juga bazar makanan vegetarian karena selain banyak penganut Budha yang vegetarian juga karena pengunjungnya ada yang berjilbab jadi tidak susah mencari makanan halal,” tambahnya.

Ramainya pengunjung juga bisa didapati tak hanya pada perayaan festival saja. Sabtu dan Minggu terutama setiap Ce It dan Cap Go (tanggal 01 dan 15 penaggalan imlek) juga ramai penjunjung khususnya yang beribadah. Perlu diketahui jika pengunjung umum dibatasi untuk mengambil foto di beberapa tempat demi menghindari hal negatif yang akan mengganggu pengunjung lainnya.

“Boleh masuk tapi hanya di area lantai satu saja, selebihnya harus didampingi guide dari pusat informasi. Disarankan untuk melapor dulu sebelum kunjungan terutama waktu dan pesertanya. Jika tidak dikhawatirkan akan kesasar karena kita tahu vihara ini ruangannya besar dan luas,” jelasnya.

Selain itu, masyarakat umum yang akan mengunjungi lantai satu juga hanya boleh berkunjung pada jam yang sudah ditentukan. Peraturannya dibuat agar tidak mengganggu penganut Budha bersembahyang dan berdoa. Wisatawan asing yang berkunjung juga tak hanya dari China dan Taiwan namun juga dari Jerman, Brazil dan Afrika. Wisatawan akan menikmati perpaduan nuansa oriental, klasik dan modern yang ditawarkan. Tak jarang beberapa justru menjadikannya sebagai lokasi Study Tour.

Ikhlasul Iqbal pertama kali mengunjungi Maha Vihara Maitreya setelah melihat foto-foto temannya di instagram. Menurutnya, vihara tersebut begitu cantik terutama untuk mereka yang hobi melakukan swafoto. “Ini pertama kalinya saya kemari, lihat foto teman kok bagus. Selain itu, sebagai muslim saya penasaran ingin tahu bagaimana orang Budha bersembahyang,” kata mahasiswa Unsyiah tersebut.

Berbeda dengan Ikhlasul, Nita Zarliana seorang mahasiswa asal Aceh mengaku berkunjung ke Maha Vihara Maitreya ini murni sebagi destinasi wisata. “Karena ada praktikum dari kampus, jadi sekalian jalan-jalan. Saya terkesan, meski baru pertama kali tapi ini vihara terasa berbeda. Selain designnya menawan, pemandangan di sekitar lokasi juga sejuk karena banyak tamannya,” aku mahasiswa semester tujuh jurusan Kimia Unsyiah yang juga seorang muslim tersebut.

Reporter : Ummu Amnah , Hafiz Harahap

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

7 Tips Mengerjakan Skripsi Agar Lulus Tepat Waktu

Teropongonline, Medan-Memulai skripsi dengan persiapan dapat menghasilkan skripsi