Desa Lubuk Bayas Pelopor Padi Organik di Sumatera Utara

Desa Lubuk Bayas Pelopor Padi Organik di Sumatera Utara

- in Kabar Kampus, kabar medan
595
0

Teropongonline, Medan – Desa Lubuk Bayas merupakan salah satu desa yang sejak tahun 2010 telah menerapkan usahatani padi organik. Desa ini terletak di Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Mayoritas masyarakat di desa ini bermata pencaharian bidang pertanian, terutama pertanian padi sawah. Kehidupan masyarakat di desa ini tergantung pada tanaman padinya. Dengan usahatani padi organik Desa Lubuk Bayas terkenal sampai nasional, menjaga kearifan lokal salah satu hal yang utama diterapkan dalam usahatani padi organik.

Di Desa Lubuk Bayas sendiri terdapat tujuh kelompok tani padi. Tetapi hanya Kelompok Tani Subur yang menerapkan usahatani padi organik untuk dibudidayakan. Kelompok tani ini menerapkan perlakuan yang menjaga kesuburan tanah. Salah satunya dengan memanfaatkan kotoran ternak yang kemudian dikeringkan sebagai pupuk, tumbuh-tumbuhan dibuat menjadi kompos. Pak Sarman selaku ketua Kelompok Tani Subur tersebut dan 20 anggotanya telah berhasil menerapkan usahatani padi organik serta kelompok ini merupakan panutan dari daerah-daerah yang ada di Sumatera Utara yang ingin menerapkan usahatani padi organik.

Sarman mengatakan kalau awalnya ia dibilang orang tidak waras oleh warga setempat yang hanya sendiri menerapkan sistem ini. Tetapi ia tidak ambil pusing untuk perkataan-perkataan tersebut. “Saya tidak peduli apa kata orang, saya terus belajar dan mendalami perlakuan organik didalam tanaman khususnya tanaman padi walaupun saya sering dikatakan orang tidak waras kala itu,”kata pria berusia 63 tahun tersebut saat bertemu di rumahnya.

Dulunya budidaya padi organik ini tidak mendapat perhatian lebih dari pemerintah provinsi. Tetapi dengan tekad yang kuat Sarman dan anggotanya berhasil menunjukkan hasil dari budidaya tersebut. Sehingga mulai datang mitra-mitra kerjasama antar lembaga dan mendapat perhatian khusus serta bantuan dari pemerintah. Seperti halnya memberikan bantuan berupa mesin penggiling padi dan pembangunan tempat penjemuran padi. Jumlah petani yang membudidayakan padi sistem organik ini dulunya mencapai 63 orang, tetapi dengan alih fungsi lahan menjadi perumahan dan pola pikir yang berubah untuk menanam yang lain maka pada tahun 2018 ini seluruh keanggotaan dari Kelompok Tani Subur hanya tinggal 20 orang.

Kelompok Tani Subur menanamkan konsep kemandirian dalam cara kerja mereka. Dari mulai membibit hingga proses produksi nya sampai padi penjualan beras. Sarman menjelaskan bahwa mereka tidak tergantung kepada siapa saja apalagi pemerintah. “Jadi konsep ini sudah lama kami tanamkan di kelompok, kami enggan bergantung kepada instansi terkait. Sehingga kami terus berusaha untuk tetap berdiri dengan inovasi yang kami ciptakan,”jelas Sarman. Terdapat tiga jenis varietas benih padi yang kelompok ini budidayakan, yaitu varietas hawang (beras merah), varietas kuning (beras kuning) dan varietas putih (beras putih).

Padi organik sangat perlu untuk dikembangkan lebih luas lagi, salah satunya penguasaan lahan dan memotivasi petani untuk ikut menerapkan padi berbasis organik. Padahal kalau dilihat dari input yang dikeluarkan, petani anorganik lebih banyak mengeluarkan input produksi ketimbang organik. Jika dilihat dari sisi kesehatan juga padi organik yang nantinya menjadi beras akan lebih sehat ketimbang anorganik yang sebagian besar dalam produksinya memakai bahan racun atau kimia.

Dalam situasi pemerintahan sekarang yang semakin menggalakkan ketahanan pangan untuk laju pertumbuhan penduduk dan bertolak belakang dengan memikirkan mutu dan kualitas dan beras tersebut. “Kalau kita lihat pemerintah sekarang hanya memikirkan bagaimana caranya untuk menciptakan ketahanan pangan bagi masyarakat dan tidak melihat kualitas dan mutu. Beras organik ini sendiri tidak perlu diragukan lagi untuk dikonsumsi masyarakat luas, tanpa memakai bahan kimia dan itu tentu sehat. Dan saya rasa beras organik ini suatu saat nanti dapat menjadi makanan utama kita ketimbang memakan hasil budidaya padi yang memakai bahan kimia,”ungkap Sarman.

Setelah melalui tahap penanaman hingga masa panen, hasil produksi padi organik itu sendiri tidak langsung dijual kepada tengkulak. Sebagaimana kita ketahui sendiri bahwa sektor pertanian padi sawah memiliki rantai pemasaran yang terlalu panjang sehingga petani akan mendapatkan dampak paling besar, yaitu harga rendah. “Masalah di petani ya itu-itu saja, rantai pemasaran terlalu panjang. Jadi, kami mengumpulkan hasil produksi kami terlebih dahulu di kilang (tempat penjemuran padi). Jika ada yang ingin membeli maka langsung kami giling dan beras tersebut sudah jadi dalam bentuk kemasan. Maka dari itulah ini merupakan salah satu konsep dari kemandirian dari kelompok kami,”kata Sarman.

Desa Pulau Gambar, Desa Bingkat, Desa Jatimulyo dan Kotamadya Tebing Tinggi adalah desa binaan dari kelompok tani Subur dalam menerapkan padi sistem organik. Pada tahun 2018 luasan lahan yang ditanami padi organik di desa Lubuk Bayas se-luas 20 hektar dan total produksi mencapai 120 ton lebih. Harga beras organik yang merah dan kuning mencapai Rp. 25.000/kg nya, sedangkan beras organik putih Rp. 14.000/kg. Dengan minimnya biaya produksi, menurut Sarman sudah selayaknya usahatani padi organik ini diaplikasikan ke seluruh petani di Indonesia. “Biaya produksi sangat minim, kondisi tanah juga akan terjaga. Sementara alam tidak terkotori oleh racun-racun yang merusak apa saja yang berada disekitarnya. Hama dan penyakit jarang untuk menyerang padi, tentunya tanamannya sehat dan berisi,” ujar Sarman.

Mereka juga tak lepas mendapat arahan dan bimbingan dari tenaga penyuluh yang berada di desa tersebut yaitu Muhammad Arsyad S.P. Ia mulai ditempatkan di desa Lubuk Bayas dari tahun 2009. Arsyad merupakan penghubung mereka kepada pemerintah setempat dan memiliki peran yang sangat penting terhadap kemajuan dari budidaya padi sistem organik. Arsyad mengatakan kalau usahatani padi organik ini memiliki prospek yang cerah dimasa yang akan datang. “Ini sangat menjanjikan, dimana kita lihat prospek kedepannya. Pola pikir manusia akan semakin berkembang dan nantinya akan menyadari makanan sehat sebagaimana mestinya yang harus dikonsumsi tanpa menggunakan bahan kimia,” kata Arsyad.

Beras organik banjir penghargaan, baik dari tingkat nasional maupun internasional. Salah satu penghargaan bergengsi yang diraih adalah mendapatkan peringkat tiga di Pulau Sumatera oleh Lembaga Sertifikasi Organik Sleman (LSOS). Dimana lembaga tersebut merupakan pusat dari organik dan menjadi acuan petani-petani organik di Indonesia. Selain itu beras organik ini sangat banyak menerima penghargaan baik tingkat kabupaten maupun provinsi, salah satunya mendapat sertifikat penghargaan dari dinas pertanian, gubernur, bupati dan lain-lain. Kemudian beras organik ini juga mengikuti pameran produk-produk organik di Singapura dan dilihat oleh berbagai macam negara di pameran tersebut. Feedback dari pemasaran tersebut berhasil mengundang perhatian mancanegara, setelah acara tersebut selesai maka beberapa warga mancanegara tersebut datang untuk langsung menyaksikan perilaku-perilaku apa saja yang diberikan sehingga menghasilkan beras organik yang sehat tanpa racun.

Salah satu penghargaan yang sangat terkesan yang diterima oleh Kelompok Tani Subur adalah berhasil menjalankan program pemerintah Sistem Integrasi Padi Ternak (SIPT) tahun 2003. Yang dimana isi dari program tersebut adalah didalam 1.000 desa terdapat satu desa yang berkompeten dalam melakukan perlakuan organik dalam membudidayakan padi organik. Pada tahun 2018 ini, Dinas Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara memberikan bantuan berupa UPO (Untuk Pengolahan Ternak) bagi kelompok tani subur. 10 ekor ternak lembu diberikan oleh ketua Kelompok Tani Sarman secara cuma-cuma untuk membantu petani dalam pemanfaatan kotoran lembu tersebut untuk dijadikan pupuk. “Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah, dengan bantuan ini kami merasa terbantu. Dan akan kami bayar kepercayaan ini tentunya dengan hasil yang baik,” tutup Sarman selaku ketua Kelompok Tani Subur.

Reporter : Fuad Saleh Madhy

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Mahasiswa Langgar Aturan Merokok di Kampus

Teropongonline, Medan-Terlihat dua orang mahasiswa yang sedang merokok