Satu Pesan Cinta untuk Terakhir Kalinya

Satu Pesan Cinta untuk Terakhir Kalinya

- in Artikel, Dunia Sastra
618
0

Segala rindu tumbuh tanpa waktu, begitu juga dengan segala pengorbanan hadir dengan perpisahan. Aku benci kata perpisahan. Ini tentangmu ! Bahkan hatiku berkecamuk tak karuan, ragaku seakan tercambuk bambu runcing. Sulit untukku mengerti semua ini. Berpura-pura bahagia adalah hal yang paling menyakitkan, dan hening dalam hidupku adalah jalan pilihan terakhir untukku.

Tak ada yang amat menyakitkan selain kata “Kehilangan”. Buah malakama menjadi bagian kisah hidupku. Memilih  diantara dipilih, tertawa diantara tangis, dan seyogyanya tak kutemukan bahagiauntuk saat ini. Ada yang datang lalu pergi, ada pula yang pergi lalu kembali,namun datang lalu pergi dan tak kembali itu tak bisa kupungkiri lagi, ada atau tidak itu pasti ada.  Melepasnya memang berat tapi orang tuaku bahagia, itu jauh dari segalanya. Hanya sebuah kata maaf untukku kepadanya menjadi kata perpisahan selamanya.

Kisah cinta selama tujuh tahun kami bangun akhirnya kandas. Banyak kisah yang tak bisa kulupakan saat bersamanya, tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat dan untuk melupakannya adalah hal yang paling pahit. Kelak semesta pun akan tahu bahwa aku benar-benar sangat kehilangan. Sungguh aku terlampau jauh mencintainya sampai kelak perpisahan ini sangatlah menyayat hatiku, dan membuatragaku seakan tak bernyawa untuk saat ini.

Senyum yang selalu  terpancar hingga berbinar diraut muka Ade tak ada terlihat lagi sejak kejadian itu. Dari semenjak SMP kelas dua Ade dan Rizki sudah selalu bersama baik itu pergi dan pulang sekolah.  Sampai kini telah dewasalah mereka, yakni sudah masuk ke jenjang kuliah.

Orangtua kami juga sudah saling kenal dan dekat. Tak jarang kenangan manis menjadi bayang-bayangnya, yang sampai sekarang belum bisa untuk dilupa. Tak pernah alpa bermain sepeda dikala senja, jalan-jalan, nonton bahkan liburan bersama keluarganya dan keluargaku pun juga pernah menjadi kebahagiaan yang pernah ada.Namun sekarang hanya menjadi kenangan manis.

 Rizkiyang memiliki postur badan tegap berkulit sawo matang dengan ciri khas mata yang tajam dan muka yang amat teduh adalah bagian mimpi untuk menjadi teman hidupnya, namun takdir berkata lain. Ikhlas merelakannya adalah salah satu kebahagiaan orang yang amat ku cinta, malaikat hidupku. Mungkin aku dan dialazimnya hanya diizinkan sebatas mengenal tak lebih untuk hidup bersama.   

Tetapi aku tak kuat sebenarnya, ragaku kian lemah tak bersisa. Jujur aku tak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya. Sekalipun ini pahit tetap harus  kukatakan apa yang telah terjadi dan mengakhiri semua dengan permintaan maaf yang sebesar-besarnya. Aku sangat tahu bagaiman ajika aku diposisinya begitu pula posisiku saat ini pun sangat menyayat kalbu dan tangisan pecah itu terus kembali. 

Sampai suatu ketika aku tak punya nyali  untuk ungkapkan itu semua. Keberanianku amatlah kecil karena aku tak sanggup menatap muka teduhnya itu yang semakin membuat aku tak kuasa untuk mengatakannya.Dengan berat hati, aku memutuskan untuk mama yang bilang ke dia langsung. Karena dilubuk hatiku paling dalam tak ingin berpisah dengannya. Tetapi aku juga tak ingin menjadi anak yang pembangkang.

Senja telah menjemput, pulanglah aku dengannya dari kuliah. Dia menjemputku dengan sepeda motor Beatnya yang berwarna putih. Di sepanjang perjalanan menuju rumah tak ada sepatah katapun yang terlontar dari kami berdua. Hening saat diperjalanan. Dalam hatiku berkata. “ Abang, mungkin ini untuk terakhir kalinya aku duduk di boncenganmu. Maafkan aku bang.” Sambil menatapnya dari kaca spion dengan tatapan kosong.

Hingga akhirnya sampailah tiba di rumah dan Ia memberhentikan motornya tepat dipelataran rumah. Lalu ia mengantarkanku sampai ke depan pintu dan sekaligus berpamitan pada mama yang telah biasa dilakukan ketika mengantar dan  menjemputku. Dengan meneka bel sambil mengucapkan salam akhirnya mama pun keluar membukakan pintu, Ade pun langsung masuk tanpa bilang apapun pada Rizki.

Masih berada di depan pintu, dan mama Ade mempersilahkan Rizki untuk duduk di bangku teras rumah mereka. Dan duduklah mereka berdua, sebelum Rizki pamit, keluarlah ucapan mama Ade untuknya. “ Rizki sebelumnya, Tante minta maaf, berat sekali Tante bilang ini tetapi ini semua demi kebaikan kalian. Rizki sekarang lagi sibuk menyusun skripsi kan?Tante minta, Rizki tak perlu lagi antar dan jemput Ade. Rizki fokus saja untuk Skripsi. Jangan pikirkan Ade dan tak usah khawatir nanti bakalan ada yang antar dan jemput Ade. Tante harap, Rizki bisa menghargai keputusan Tante.

Mendengarsemua itu, Rizki terdiam sejenak. Suasana saat itu menjadi hening. Ntah apa jawaban yang akan dikeluarkan oleh Rizki setelah mendengar itu. Tetapi buatnya tetap berpikir positif dan mengatakan dengan santunnya. “ sebenarnya Rizki tak mengapa kalau harus antar jemput Ade setiap hati Tante, dan Rizki merasa tak terganggu juga sekalipun sekarang lagi sibuk nyusun skripsi. Tetapi kalau itu yang Tante mau, Rizki lakukan. Baik Tante, kalau seperti itu Rizki pamit pulangya”. Sambil beranjak dari tempat duduk dan menyodorkan tangannya untuk berpamitan.

Rizki pulang tanpa membawa kecurigaan sedikit pun, menurutnya ucapan mama Ade adalah benar. Ia menganggap ucapan mama Ade adalah sesuatu yang positif tanpa ia tahu yang sebenarnya bahwa maksud mama Ade sesungguhnya adalah semata-mata menyuruh untuk menjauhi Ade secara perlahan.

Setelah mama masuk ke dalam rumah  perbincanganku pun dimulai. Dengan posisiku yang masih stay di Sofa, lalu aku menarik tangan mama untuk duduk di sampingku. Aku ingin tahu apa sih yang di omongin mama di luar. Sampai lama sangat masuk ke rumah. Aku mendesak mama untuk ngomong dan akhirnya mama pun cerita. Setelah cerita mama habis, lalu timbulpertanyaan baru buat mama. “ Kenapa mama tak mengatakan sejujurnya ?, Mama sudah janji kan sama Ade untuk mengatakan yang sebenarnya. Mama tahu kan alasan kenapa mama yang Ade suruh untuk katakan itu. Bukankah ini juga kemauan dari kalian kan ma ?  Lalu kenapa malah ini jawaban yang Ade dengar.” Menatap mamanya dengan mata yang berkaca-kaca

Menghela nafas panjang, mama pun menjelaskan alasannya. “Sayang, bukan mama tak ingin mengatakan sebenarnya tetapi Ade lah yang layak untuk mengatakan sesungguhnya.Mama rasa Ade sudah cukup dewasa dan mama yakin Ade bisa menyelesaikan masalah ini semua tanpa campur tangan mama. Percayalah sayang, semua akan baik-baik saja dan semua ini mama lakukan untuk kebaikanmu semata.” Sambil mengelus kepalaputrinya.

Takkuasa mendengar jawaban mama, Aku pun langsung masuk ke kamar, mata yang telah binar di depan mama yang berusaha kutahan akhirnya tumpah juga. Batinku seakan sobek dan hatiku terdampar di tempat tidur. Gulingku membasahi air mata. Untuk menjaga perasaan mama aku harus terseyum dengan berpura-pura bahagia didepannya.  Hal yang menyesakkan buatku juga adalah harus menahan rindu yang  sekarang tak bisa tersampaikan bahkan yang paling pahit semesta tak  mengizinkan. Sekejam itu kah ?

Satu minggu kemudian, tak sanggup untuk menutupinya lagi. Bahkan aku dilarang mama untuk jumpa  dan pahitnya berkomunikasi lewat chat pun dilarang. Ia menelpon dan chat pun selalu kuabaikan demi menjaga perasaan mama padahal rindu semakin menjelma. Ada saja alibi yang terlontar dari mama setiap dia datang ke rumah. Adenya tidur, Adenya lagi ke rumah teman, Adenya belum pulang, dan banyak lagi alasan yang keluar setiap Rizki datang ke rumah untuk menemuiku.

Aku memutuskan untuk ngechat dia melalui whatshapp karena aku tak sanggup untuk mengatakan dihadapannya. Nyaliku sangat sedikit bahkan jemariku kian bergetar saat  mengetik  pesan di whatsapp yang akan segera kukirim untuknya. Segala yang ada dipikiranku, kuungkapkan semua. Begitu aku selesai mengerjakan tugas kuliah, kukirimkanlah pesan  sekitar jam 22.17 WIB dengan dihujani air mata saat mengetik kata demi kata, kalimat demi kalimat sampai menjadi paragraf yang amat menyakitkan.

Assalamualaikum abang,maaf baru ada kabar. Adek cuma mau katakan makasih atas cinta dan sayang abang untuk adek, ini adalah keputusan terberat bagi adek. Kalau selepas baca chat ini abang benci sama adek, adek terima karena sejujurnya adek masih sayang abang tapi…

Lupakan adek, carilah kebahagiaanmu bang karena adek telah dijodohkan dengan pilihan orang tua adek.Sekarang adek akhirnya sadar bahwa pertemuan dan ikatan kita hanya sebuah persinggahan belaka. Sungguh itu menyakitkan bagiku bang. Maaf adek telah mengecewakanmu

Setelahpesan itu terkirim, Rizki membaca itu secara perlahan. Pesan yang dikirim Ade bagaikan mimpi buruk baginya. Ia pun membalas chat Ade dengan curahan air mata. Ia berusaha untuk berbicara dengan Ade hingga telpon ke 24 kali pun tak jua diangkat.

Waalaikumsalam, jujur abang tertekan dengan membaca pesan ini, abang tak ingin kalau kita sampai berpisah, tapi abang sadar Ego tak bisa buat bahagia. Jika ini memang keputusanmu, abang terima walau abang masih sangat mencintai dan menyayangimu.Tapi gak perlu khawatir, karena secepatnya abang akan segera melupakanmu sesuai dengan keinginanmu walau itu sangat menyakitkan. Terimakasih telah pernah menjadi bagian hidupku.B

 Oleh : Ummu Amnah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Antrean Kapal Pengangkut di Singapura Pemicu BBM Langka di Sumut

Teropongonline, Medan-“Masyarakat dibuat resah dengan kelangkaan yang terjadi