MASIH TERNGIANG

MASIH TERNGIANG

- in Dunia Sastra
1046
0

Pagi ini seperti biasanya aku selalu berdoa terlebih dahulu sebelum berangkat kuliah. Setelah aku berdoa, aku membereskan kembali tas dan barang bawaan aku agar tidak ada yang ketinggalan satu pun. Karena memang aku merupakan pribadi yang pelupa, aku sering mencatat dan membuat list begitu. Sering juga buat agenda, jadi kemana pun aku pergi buku agenda itu selalu bersamaku.

Aku bukan anak yang manja namun orangtuaku yang sangat sayang padaku makanya aku tidak diberi sepeda motor. Jadi gimana? Setiap hari aku ke kampus aku pergi menggunakan jasa abang ojol. Jadi orangtuaku hanya kasih duit saja selalu buatku. Biasanya setelah pulang kuliah aku pulang bareng teman. Kalau berangkat pagi barengan takutnya temanku tidak bisa, bisa jadi buru-buru dia nanti dari rumahnya. Tidak enak jadi merepotkan dia.

Aku pesan ojol. Dapat driver deh!

DRRTT.. DRRTTT…

Telepon genggamku bergetar. Langsung ku angkat pastinya.

“Haloo..” jawabku.

“Halooo…” sahutnya.

“Aku kaya tanda dengan suara ini,” ucapku dalam hati. Aku terus berpikir keras, suara ini tidak asing bagiku. Sampai akhirnya aku tersadar kalau suara driver tersebut sama dengan suara mantanku. Aku bingung harus ngomong apa.

“Saya jemput di jalan blabla ya?” tanya driver itu dengan lembut padaku.

“Kamu bukan mantannya aku kan?” tanyaku dengan nada penasaran.

Dia diam saja tanpa menghiraukan pertanyaanku. Telepon itu masih tersambung namun dia tidak melanjutkan pembicaraan.

“Apa benar dia mantanku?” tanyaku dalam hati.

“Saya sudah dijalan ya,” jawabnya dengan lembut.

Telefon itu mati. Namun aku langsung menelfonnya kembali.

DRRRTTT….

Telefon genggam si driver bergetar dan dia langsung mengangkatnya.

“Haloo.. Saya sudah mau sampai kok,” sahutnya dengan ramah.

“Tidak perlu jemput aku, ambil aja gopaynya. Aku ikhlas kok asal kamu tidak ke rumah jemput aku. Kamu pasti mantan aku kan? Jujur dong!” dengan nada tinggi sambil memastikan kalau si driver adalah mantanku.

Aku pun mulai takut dan curiga. Entahlah, buyar semuanya yang ada dikepalaku ini. Karna aku masih ingat jelas kejadian aku dulu bersama mantanku. Dia sering bohongi aku, dia yang menyakiti hatiku paling dalam sampai aku gagal move on  karena cinta yang teramat dalam.

“Ini mantanku, aku tidak mau dijemput olehnya,” dengan nada tegas aku berbicara dalam hatiku.

Kutelpon lagi si driver manis itu.

“Haloo.. Kamu tidak perlu datang kesini menjemput aku ya. Tidak apa-apa kamu ambil saja gopaynya tanpa harus benar-benar mengantar aku ke kampus. Sudahlah aku tidak mau lagi bertemu denganmu,” jawabku dengan nada baper.

Aku mengira si driver ini mantanku. Ternyata….

Dua menit kemudian driver tersebut muncul di depan rumahku. Dia nongol. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Aku kaku banget dan keringat dingin melihat perawakannya sangat mirip dengan mantanku. Aku meyakini malah dia adalah mantanku.

Dia membuka kaca helmnya. Aku mulai khawatir jika kenyataannya dia adalah benar mantanku. Aku menahan nafasku. Di detik-detik terakhir aku mulai berdoa, agak alay memang tapi jelas aku tidak mau bertemu dengan mantanku lagi.

“Tuhan, dia bukan mantanku kan?” tanyaku dalam hati.

Akhirnya saat dia membuka helmnya, eng ing eng…

Dia bukan mantanku ternyata.

“Syukurlah, lega banget ternyata bukan mantanku,” jawabku.

Si drivernya tampak kebingungan karena melihat ekspresi aku yang sangat tegang.

“Aku pakai helm ya,” pintaku pada si driver.

Selama diperjalanan aku berbicara banyak dengan si driver soal mantanku. Dia tertawa karena sebelumnya aku pikir dia itu adalah mantanku. Syukurlah kalau ternyata bukan. Aku sebenarnya tidak benci dengan mantanku tapi yang dia lakukan selama ini padaku, itu jahat. Sungguh terlalu ~

Akhirnya sampai di kampus, si driver membuka helmku karena memang kebetulan saat itu aku kewalahan membuka helmku sendiri. Bukan modus ya hehe…

“Maaf nih ya,” sambil si driver membukakan helmku.

Saat itu aku mulai melihat dia hanya mirip aja dengan mantanku. Senyumnya pun mirip mantanku. Duh sepertinya aku gagal move on nih ya hehe…

Kali aja mantanku membaca cerita ini mungkin dia agak tertawa karena lucu sih. Aku langsung panik saat tahu ada seseorang wanita yang mirip dengannya. Susah banget buat dijelasin yang jelas sih syukurlah aku tidak bertemu dengannya. Aku harap mantanku bahagia disana dengan orang yang dia pilih. Aku mungkin tidak terbaik buat dia, menurut dia sih ya. Aku sendiri merasa terbaik kok dan paling mengerti buat dia hehe…

Oleh : Acha Hallatu, Mahasiswi Psikologi Universitas Medan Area

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Sudut Pandang Mahasiswa Terhadap Privilege dari Good Looking

Teropongonline, Medan – Berpenampilan menarik saat ini kerap