DI BALIK RAK BUKU TERAKHIR

DI BALIK RAK BUKU TERAKHIR

- in Dunia Sastra
476
0

Aku adalah mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi yang tidak bisa berkomunikasi, aneh memang tapi itu lah aku SYAHIDA NIANA NASIR. hari itu jadwal kuliah ku sangat padat, di mulai dari pukul 07:30 sampai 12:30kemudian lanjut lagi mulai pukul 16:00 sampai 18:00, seperti hari-hari biasanyaaku tidak pernah pulang ke rumah sehabis pulang kuliah, ku habiskan waktu duduk menikmati angin yang berhembus di atas rooftop kampus atau membaca buku-buku di perpustakaan. aku hanya akan ada di rumah pada pukul 22:00 sampai 07:20 kemudian pergi lagi begitupun seterusnya, jika ditanya mengapa jawabanya hanya satu aku
benci berada dirumah dan aku benci hidup ku. Kami pindah setahun yang lalu ke kota ini, aku tidak memiliki teman dan
tidak pula berteman.

“Niana “ teriak seorang pria memanggilku. Aku menoleh, ku lihat seorang pria berkemeja rapi berjalan kearah ku sambil membawa beberapa buku ditangannya, Dia adalah salah satu mahasiswa di kelas ku nama nya Adam.

“kamu mau ke perpus kan?” tanya nya sambil tersenyum
“iya”
“bareng ya, aku juga mau kesana sambil balikin buku ini” sambil menunjukan
buku yang berada ditanganya
“iya”

Kami pun berjalan menuju perpustakaan, ya walaupun aku yang memipin jalan dan dia tertinggal jauh dibelakang.
Hari-hari berlalu begitu lamanya, tidak ada yang menarik dalam hidup ku begitupun dalam hidup tidak ada yang menarik bagi ku. Aku tumbuh menjadi seseorang yang sangat membosankan, egois dan tidak perduli terhadap apapun. Aku hanya ingin waktu berlalu dengan cepat dan aku bisa segera bertemu dengan ibu di surga. sisi paling ujung di bawah jendela menghadap langit di perpustakan adalah tempat favorite ku, dengan headset yang menemani kemana pun aku pergi, ku dengar alunan lagu-lagu berisi kenangan tentang ibu. Sekarang sudah pukul 21:00 wib dan aku masih mencari buku yang sedari dulu ingin ku baca. di bilik terakhir rak buku perpustakan ku kulihat seorang pria berbaju kaos hitam berkacamata dengan tahi lalat khas di bawah bibirnya dan dengan senyum di wajahnya memegang buku yang ingin ku baca. Aku melanjutkan mata ku mencari-cari buku yang sama seperti milik nya, tapi tak kunjung ku dapati juga. Terdengar suara lembut memanggil namaku.

“Niana!, nama kamu niana kan”
“iya” jawab ku dengan singkat sambil terus mencari buku yang sama
“ini buku yang kamu cari kan ? aku sudah pernah baca, hanya ingin mengulang
kalau kamu mau membacanya silahkan ” sambil menunjukan sebuah buku dengan
cover mawar hitam ditanganya.
“tidak, terimakasih”
Dia terus mengikuti ku berjalan di tengah-tengah rak yang bersebrangan.
“Aku tau kamu sering ke perpustakan, mengahabiskan waktu mu disini. iyakan?”
“aku juga tau kamu sering ke rooftop, menikmati tiap-tiap hembusan angin sore.
iyakan?”
“dan kamu tidak punya teman kan?”
“dan aku tau kamu benci sendirian”.

Aku menghentikan langkah ku, menoleh ke arah nya dengan wajah datar andalan ku.

“aku mau kok jadi teman kamu” dia kembali mengganggu ku
“aku tidak berteman dengan siapapun dan tidak ingin berteman dengan siapapun”
tegas ku
Aku memutuskan untuk pergi dan berhenti mencari buku itu.
“Sekarang hampir jam 22:00 aku harus segera pulang atau jika tidak ayah akan
menelpon pihak kampus dan mengirim anak buahnya untuk membawaku pulang”,
ucap ku dalam hati.
“hey, kamu mau pulang ya hati-hati ya sampai ketemu besok malam”. Ucapnya
dengan sangat yakin sambil melambaikan tangan
Aku terus berjalan dan mengabaikan nya.
Di meja cafe baca dekat pintu keluar perpustakaan ku lihat seorang pria duduk di
temani sebotol koffe dan tumpukan buku-buku, ternyata dari tadi Adam masih
menunggu ku.
“uda selesai ? mau pulang ? mau di antar ?” tanya nya bertubi-tubi
“enggak, aku bisa pulang sendiri” jawab ku dengan cepat
Kami pun berpisah di tengah perjalanan.
Setiba di rumah, seperti biasa ayah baru pulang dari kantor dan akan berkata.
“kok baru pulang”
“dari mana aja”
“gimana kuliahnya”
“tadi pulang naik apa”

“kalau ayah nanya itu di jawab !”

Bahkan aku sudah hafal dengan semua pertanyaan dan ekspresinya. Ku naiki satu persatu anak tangga dan sampai dikamar ku. Malam yang berlalu begitu saja di sambut pagi yang hampa aku masih tetap Niana yang sama. Tetapi anehnya aku masih memikirkan sosok pria berkacamata di perpustakaan malam itu. Sore nya, aku kembali keperpustakaan duduk manis di bangku kayu berwarna coklat. Ku dapati buku dengan judul yang ku fikir sedikit lucu, yaitu “Bagaimana Cara Menjadi Manusia Normal”

“buku apa sih ini gak penting” fikir ku.
Tanpa sadar aku telah usai membacanya dan mendapat kesimpulan bahwa aku
bukanlah manusia normal, oke fine.
Tepat di waktu dan tempat yang sama pria itu kembali muncul.
“hay, ketemu lagi kita kan! uda dibaca bukunya? Gimana baguskan! Kira-kira
kamu masuk ketegori yang mana? a. Manusia b. Bukan manusia” ucapnya dengan
nada menggoda dan raut wajah bahagia

Aku hanya diam dan melihatnya sesekali, dia terus saja berbicara panjang lebar membuat beberapa lelucon dan hampir saja berhasil membuat ku tertawa. Seminggu berjalan dengan cerita yang sama, aku duduk di kursi kayu berwarna coklat dan dia duduk di sisi sebrang rak buku terakhir. Tiap harinya dia selalu meletakan buku-buku yang menarik diatas meja ku dan kami pun akhirnya saling bicara. Aku menjadi sosok yang berbeda denganya, ku ceritakan semua tentang kehidupan ku yang suram setelah kepergian ibu ku, tentang diriku yang introvert dan tentang ayah ku yang egois. Semakin lama dia terlihat seperti ibu ku yang cerewet tapi sangat ku rindukan. Dia selalu memarahi ku jika aku terlalu sering berlama-lama di perpustakan, tapi anehnya kami hanya bertemu pada malam hari dan aku tidak pernah melihatnya di sekitaran kampus atau dimana pun, kami juga tidak pernah duduk bersampingan berdua ataupun jalan berdua atau bahkan berjabat tangan. aku ada diposisi ku dan dia tetap di posisinya dengan kacamata yang sama dan warna baju yang sama pula, jika ditanya “aku suka di sini dan aku suka pakai baju ini jadi, tetap lah seperti ini oke!” jawabnya dengan nada dan raut wajah bahagia. Tapi aku tak pernah memperdulikan ke anehanya, yang ku tau dia teman ku, teman ku satu-satunya. Dan karna nya aku telah kembali menjadi Niana yang dulu Niana yang cantik, ceria dan sangat bersahabat. Aku menjadi sosok wanita idaman di kampus dengan semua prestasi dan prilaku
ku. Aku berhasil menemukan dan mengembangkan bakat seni lukis ku. Menjadi penulis bloger dan reporter di salah satu perusahan media di kota ini. Dan aku sudah bisa berdamai dengan ayah ku.

“yah, kita mau kemana sih?” tanya ku saat ayah memaksa ku mengganti pakaian
dan hendak mengajak ku pergi
“uda cepatan ganti jangan banyak tanya” balasnya dengan datar

Kami tiba di sebuah cafe dekat kampus, aku melihat beberapa teman kelas, organisasi dan teman kerja. Aku baru ingat ini adalah hari ulang tahun ku. Seperti tahun-tahun biasanya ayah selalu mempersiapkan dan memaksa ku merayakanya yang sebenarnya aku tidak menyukai itu. Tiba-tiba aku teringat pria itu, pria yang menjadi teman pertama ku. Kami sudah berteman selama kurang lebih setengah tahun namun sampai sekarang aku tidak memiliki kontaknya bahkan aku tidak tahu namanya. Aku memutuskan meninggalkan pesta diam-diam, pergi menuju rumah kedua ku yaitu perpustakaan yang sudah hampir dua minggu tak ku kunjungi. Aku mencari ke atas meja barang kali ada buku yang di tinggalkan nya untuk ku.

“Mawar Merah Terakhir” sebuah buku dan setangkai bunga mawar yang sudah
kering dan layu tertinggal di meja itu.
Ini adalah buku yang selama ini ku cari dan malam ini aku bisa membacanya.
kemudian aku di sadarkan oleh dering hp panggilan dari ayah.
“Niana kamu dimana?”
“di perpus yah” jawab ku dengan suara lirih
“kok di perpus? Ngapai? Kok suaranya seperti orang habis nangis?” tanyanya
dengan penuh penasaran
“ada buku yang dicari yah, terus tiba-tiba gak enak badan aja”
“oh yauda balik ke cafe sekarang biar kita langsung pulang aja kerumah ya!”
“iya yah “ jawab ku

Aku berusaha mencari kebenaran tentang isi buku ini, dan tentang kenyataan teman ku itu. Ku lihat di balik rak buku terakhir perpustakaan yang ada hanya lah dinding putih kosong tanpa ruang dan noda.
Jadi selama ini aku berteman dengan ????

Oleh : Sariya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Syarat Menjadi Wirausaha yang Sukses

Teropongonline, Medan-Steve Jobs, Walt Disney, Benyamin Franklin, Hans