Jamu, Minuman Tradisional Yang Khasiatnya Teruji Waktu

Jamu, Minuman Tradisional Yang Khasiatnya Teruji Waktu

- in Feature, kabar medan
226
0

Teropongonline, Medan – Sebagai minuman tradisional, jamu dinilai baik bagi kesehatan tubuh. Pembuatannya yang masih menggunakan bahan-bahan tradisional seperti rempah dan akar-akaran terbukti efektif mengobati beberapa jenis penyakit sekaligus. Nah, masih ingat kapan terakhir kali minum jamu? atau sama sekali belum pernah mencicipi minuman berkhasiat tersebut?

Meski tergolong ‘lama’, siapa bilang di era millennial yang sudah serba instan ini tak butuh sesuatu yang ‘lama’? Bila jamu begitu bermanfaat bagi kesehatan, akan sangat disayangkan bila jamu harus ditinggalkan begitu saja.

Donaliar, salah seorang warga Jalan Mustafa yang rutin mengkonsumsi jamu mengatakan bahwa dari pada mengkonsumsi suplemen kesehatan, menurutnya lebih baik meminum jamu secara rutin. “Suplemen dari dokter biasanya mahal dan kadang belum tentu cocok di tubuh. Jadi sudah mahal, bahan dasarnya tidak alami pula (kimia),” katanya.

Meski demikian, Dona menambahkan jika terkadang dirinya merasa khawatir ketika minum jamu. “Takut juga kalau-kalau jamu yang saya minum asal jadi ataupun oplosan, karena sekarang sedang marak pemalsuan,” tambahnya.

Kekhawatiran tersebut juga dirasakan salah seorang mahasiswa Fakultas Hukum UMSU, Anggi Kuswenti. Anggi khawatir dengan pemberitaan mengenai jamu yang dioplos dan berbahaya. “Air biasa dibilang dari akar-akaran, bahkan ada yang mencurangi dengan menambahkan tepung dan pengawet kimia biar tahan lama dan murah,” ujar mahasiswa semester tujuh tersebut.

Sudah diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun sejak dulu, jamu umumnya terbuat dari bahan-bahan alami seperti rimpang (akar-akaran), dedaunan, kulit batang, dan buah. Beberapa kalangan menambahkan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing, empedu ular, atau tangkur buaya demi memaksimalkan manfaat yang bisa diperoleh. Seringkali kuning telur ayam kampung juga digunakan sebagai campuran saat minum jamu.

Berbagai literatur mencatat jika istilah jamu muncul sejak zaman Jawa Baru, dimulai sekitar abad pertengahan 15-16 masehi. Karena jamu identik dengan budaya Jawa maka pengertian jamu pun di ambil dari bahasa Jawa Kuno.

Menurut ahli bahasa Jawa Kuno, istilah jamu berasal dari singkatan dua kata bahasa Jawa Kuno yaitu “Djampi” dan “Oesodo”. Djampi berarti penyembuhan menggunakan ramuan obat-obatan sedangkan Oesodo berarti kesehatan. Pada abad pertengahan (15-16 M), istilah Oesodo jarang digunakan. Sebaliknya istilah Jampi semakin popular dikalangan keraton.

Bukti bahwa jamu sudah ada sejak zaman dulu dapat dilihat pada relief Candi Borobudur (Kerajaan Hindu-Budha tahun 722 M) di mana relief tersebut menggambarkan kebiasaan meracik dan meminum jamu.. Bukti sejarah lainnya yaitu penemuan Prasasti Madhawapura (Kerajaan Hindu-Majapahit) yang mencatat adanya profesi tukang meracik jamu atau Acaraki.

Acaraki di era kini juga masih ada, salah satunya Sodi yang biasa berjualan menggunakan gerobak di Jalan Irian Barat Sampali. Sodi mengaku jika pelanggan selalu mengeluh dengan pengobatan dokter yang mahal. Profesinya sebagai tukang jamu dianggapnya sebagai perkerjaan yang fleksibel, tak diatur oleh siapapun namun tetap dicari.

“Ini merupakan pekerjaan dimana kita yang dikejar-kejar pelanggan, bukan kita yang mengejar pelanggan. Banyak yang cari jamu karena selain menyehatkan juga mampu membuat tubuh terasa segar,” kata laki-laki yang sudah berusia 66 tahun tersebut.

Menurut Sodi, pelanggan jamunya datang dari berbagai kalangan. Namun dominasi tetap dari kalangan ibu-ibu. “Pada umumnya jamu yang digandrungin itu temu lawak, beras kencur dan brotowali. Beberapa ada yang di campur seperti jamu batuk dicampur dengan jamu beras kencur. Jamu pegal linu dicampur kudu laos, madu, atau kuning telur. Sedangkan jamu sinom atau kunir asam dicampur dengan jeruk nipis sebagai penyegar rasa,” jelasnya.

Acaraki lainnya akrab di sapa Bik Tami yang biasa berjualan dengan menggendong jamu di punggung mengelilingi sekitaran Jalan Jemadi Medan. Seperti Sodi, Tami mengaku rata-rata pelanggannya adalah ibu-ibu. “Tidak tentu, siapa yang mau minum ya minum. Kadang ada juga anak muda dan anak kecil. Biasanya perhari bisa dapat 100 hingga 150 ribu,” kata perempuan berusia 58 tahun tersebut.

Meski berbagai resep dan khasiat jamu sudah dikenal turun-temurun, hanya saja dari dunia medis banyak pakar kesehatan seperti dokter atau bidan belum bisa berbicara banyak tentang kepastiannya. Salah satunya bidan Ellyzarti Am Keb M Kes yang mengatakan jika khasiat jamu memang teruji waktu namun belum teruji secara klinis. Jamu merupakan jamuan turun temurun yang setiap pembuatannya hanya berdasarkan resep nenek moyang, belum secara ilmiah.

“Kalau jamu ini kan macam-macam dan masing-masing ‘bumbunya’ memiliki efek yang berbeda, tidak sama dengan obat yang sudah melewati penelitian. Jamu hanya berdasarkan ilmu turun-temurun. Informasi soal dosis yang aman untuk dikonsumsi begitu terbatas jadi disarankan untuk tidak diminum secara berlebihan,” sarannya.

Reporter : Yurika Febrianti

About the author

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Sarayu

Dedaunan layu dan ranting patah pada sarayu dari