Utang Yang Berujung Krisis

Utang Yang Berujung Krisis

- in Opini, Uncategorized
318
0

“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat batu dan kayu jadi tanaman.” Sepenggal lirik lagu yang berjudul Kolam Susu ini menunjukkan bahwa betapa kayanya Ibu Pertiwi. Dari Sabang hingga Marauke Sumber Daya Alam (SDA) terbentang sangat luas, hingga menggiurkan lidah siapapun yang melihatnya. Mulai dari tambang emas, tambang minyak, tambang air, sungai,  perkebunan, pertanian, laut dan lain sebagainya.

Ironisnya realita negeri ini tak seindah lagu yang dilantunkan oleh Band Koes Plus tersebut. Pasalnya Indonesia kini kian tergadaikan karena menggunungnya utang terhadap luar negeri. Seperti yang dilansir dari www. Liputan6.com, berdasarkan data Kemenkeu, total outstanding utang pemerintah sampai dengan Maret 2018 sebesar Rp 4.136,39 triliun. Mirisnya utang tersebut kian melonjak hingga April 2018 sebesar Rp 4.180,61 triliun. Dari data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) utang pemerintah Indonesia terdiri dari pinjaman Rp 773,47 triliun dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 3.407,14 triliun. Pembayaran bunga utang selama tiga bulan terakhir sudah mencapai Rp 68,46 triliun atau 16,25% dari target Rp 69,79 triliun sepanjang tahun ini.
Lonjakan utang ini dipergunakan untuk kemajuan Indonesia di bidang infrastruktur. Walaupun tidak semua masyarakat dapat menikmati infrastruktur tersebut. Infrastruktur ini kerap dinikmati oleh segelintir pemilik modal saja.
Sejatinya negara yang menjadikan utang berbasis riba sebagai sumber pendapatan tidak akan pernah bisa menjadi negara mandiri ataupun negara maju. Allah berfirman dalam Q.S Al Baqarah: 275, “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. “

Oleh karena itu hendaknya kebijakan ini harus segera dihentikan oleh pemerintah. Lantas bagaimana cara memutus rantai utang piutang tersebut?  Jika kita lihat kebijakan ekonomi dalam Islam sungguh sangat sempurna. Namun, saat ini kita  enggan mempraktikkannya. Menganggap Islam hanya sebuah agama spiritual yang mengatur solat, puasa, dan zakat. Seolah-olah Islam tidak pernah mencontohkan konsep Politik, terutama ekonomi. Kebijakan ekonomi Islam tidak lain merupakan solusi bagi setiap individu, sehingga mereka dapat berusaha meraih kemakmuran, dengan selalu menjadikan Syariat Islam dalam genggaman sebagai faktor dominan dalam setiap interaksi yang terjadi di antara individu.
Menurut konsep ekonomi Islam, pemilik sejati harta yang terbentang di bumi adalah Allah. Kita sebagai hambaNya hanya bisa menikmati kekayaanNya semata-mata karena amanah dariNya. Maka seyogyanya kita mengelolah SDA berdasarkan Syariat yang sudah Allah tetapkan. Adapun Islam telah menetapkan tiga jenis kepemilikan dalam konsep ekonominya yaitu kepemilikan individu, umum, dan negara. Dalam hal ini, negara hanya sebagai pengelolah SDA dan hasilnya diberikan untuk rakyat. Rasulullah saw bersabda : “Manusia berserikat dalam tiga perkara, yaitu air, padang gembalaan, dan api. ”
Bila konsep ekonomi Islam diterapkan, maka SDA tidak akan bisa dikuasai oleh asing dan aseng. Apalagi sampai menggunungnya utang berbasis bunga. Karena utang piutang yang dilakukan negara merupakan penjajahan imperialis yang hanya memberikan kesejahteraan utopia bagi rakyat.

Oleh: Zahra Ar-Rahmaan
Mahasiswi UMSU

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Mahasiswa Langgar Aturan Merokok di Kampus

Teropongonline, Medan-Terlihat dua orang mahasiswa yang sedang merokok