Mahkota Untuk Ayah dan Ibu

Mahkota Untuk Ayah dan Ibu

- in Dunia Sastra
597
0

Biarkan bumi berputar dengan porosnya, biarkan hujan datang dan pergi sesukanya dan biarkan Dia mengatur hidupmu dengan kuasa Nya. Karena apapun keadaan nya semua tergantung kepada apa yang Dia kehendaki. Rezeki, jodoh, maut adalah rahasia sang pencipta. Kita tak pernah tau apa yang ada pada diri kita dari ketiga hal tersebut. Sama hal nya seperti kehidupan yang telah dilalui oleh gadis putih, cantik, nan sholeha tersebut.

Nur syafika adalah namanya, seorang gadis yang sangat santun, pribahasa nya yang sangat lembut membuat seolah para wanita cemburu dengan kecantikan luar dalamnya. Kecerdasan yang ia miliki telah mampu memberikan mahkota terindah untuk kedua orang tua nya yaitu Ibu Fatimah dan Pak Ali. Yang mana tak semua orang cerdas mampu mendapat kan mahkota terindah itu.

Lima belas tahun silam saat Fika masih berumur 6 tahun. Ia selalu mengantar dan menyambut ayah nya ketika pulang dari laut. Rumah yang sangat sederhana, berlantai kan tanah liat, berdinding kan papan, dan beratap kan nipah dalam bidang kurang lebih dari 4 kali 6 meter itu lah tempat keluarga tiga orang anak ini tinggal. Keluarga yang sangat sederhana bahkan kurang dibanding dengan keluarga lain. Sebab pak Ali hanya seorang pelaut harian yang mana apabila cuaca mendukung ia akan bergaji namun bilamana cuaca tidak menudukung maka untuk makan sajas usah untuk dicari.

Kawasan pantai bukanlah lingkungan yang ramai akan pendidikan. Namun tekad Fika untuk sekolah sangat kuat mengingat ia adalah anak pertama dari dua adiknya yang masih sangat kecil. Ia selalu mengoceh pada ayahnya kalau ia ingin sekolah sejauh dan setinggi mungkin. Sebab semakin jauh perjalanan kita untuk menuntut ilmu akan semakin banyak pula ilmu yang akan kita dapat. Ibarat perjalanan semakin panjang jalan maka akan semakin banyak pintasan, semakin banyak pintasan maka akan semakin banyak informasi yang akan kita dapatkan.

“tuntut lah ilmu walau sampai ke negeri cina” kata-kata yang selalu membuat fika semangat untuk menuntut ilmu. Namun mimpi tidak semata – mata indah hanya karena kata – kata. Celaan bahkan hinaan sudah seperti santapan hari –hari bagi fika ketika masyarakat sekitar mengumpat cita – citanya.“Apa yang akan dilakukan oleh anak seorang nelayan harian? Sekolah sampai tingkat dasar sudah cukup untukmu, selebihnya bantu orang tua, asin kan ikan, jemur udang, atau bahkan ikut orang tua mencari kerang”. Itulah kata – kata yang selalu dilontarkan para tetangga dimukanya. Tapi itu semua tak menjadi penghalang untuknya terus belajar. Hingga suatu saat ketika Fika sudah meranjak remaja dan memasuki sekolahmenengah tingkat pertama. Ia bingung kemana ia akan melanjutkan mimpi nya setelah itu.

“fika mau lanjut kemana setelah ini nak ? “ satu pertanyaan Ali ketika fika sedang asyik muroja’ah dengan hafalan – hafalannya. “ kesini bi “ sambil menunjuk satu gambar mesjid yang sangat indah yaitu Masjid Biru Istanbul. Dengan tersenyum ayahnya berkata “InSyaa Allah ” kalau Allah sudah berkehenndak dan niat sudah tertancap dalam hati diiringi dengan usaha yang tulus dan Doa tiada henti akan merealisasikan semua mimpi – mimpi mu.Sebab kalau Allah sudah katakan Terjadi maka Terjadilah tak satupun hal yang dapat menghalanginya.

Keluarga kecil ini sedang asyik menyantap makan malam sederhana mereka. Tanpa diduga tamu terhormat datang dari ibu kota yang ingin mencari santri dan santriwati baru penghafal Qur’an untuk ditempatkan disalah satu Pesantren yang baru didirikan dikota Medan. Senyum lebar merekah dibibir Fika ketika ia ditawarka nuntuk menjadi santriwati Pesantren tersebut. Dilihatnya mata kedua malaikat tanpa sayapnya dengan buliran air mata penuh harap. Dan terpancar satu jawaban serta harapan agar kelak suatu saat Fika akan menjadi seorang Hafidzah yang dapat menghadiahkan mahkota terindah untuk mereka.

“pergilah nak, tuntutlah ilmu, dan jangan pulang sebelum kamu menjadi seorang Hafidzah” pesan Ali kedapa Fika sambil memberikan satu mushaf Al Qur’an. Kepergian fika dari gubuk sederhana itu diwarnai senyum bahagia dengan tetesan air mata penuh haru. Siapa sangka anak dari seorang nelayan miskin bisa sekolah sampai kekota bahkan tanpa dipungut
biaya sedikitpun.

Setahun setelah kepergian fika, Ali sakit keras ditambah dengan luka dikakinya yang tak kunjung sembuh akibat terlilit mesin sampan beberapa minggu lalu. Rasa sakit yang dirasakannya hanya dia saja yang tau. Namun senyum indah tetap tersayat dibibirnya hanya untuk menenangkan hati fatimah dan anak anak nya. Hingga pada satu saat dimana sakit yang
ia rasakan sudah tak tertahan lagi dan juga pengobatan yang tak dapat terlanjuti yang disebabkan kekurangan biaya. Ali pun menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Fatimah dengan muka yang sangat pucat.

“umi tolong jangan katakan pada fika, seperti apa Abi saat ini. Dan jangan
menyuruhnya pulang meski apapun yang terjadi. Abi hanya ingin dia menjadi seorang hafidzah dan menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lain. Jangan pernah berhenti mendukung mimpi anak – anak kita meski kita pun tak sanggup hendak merealisasikan nya. Ada Allah sebagai tumpuan hidup kita”

Pesan Ali itu sangat menggores hati Fatimah mana mungkin ia akan merahasiakan kematian ayah dari anak kesayangan nya yang sedang menuntut ilmu diluar sana. Sedang fika sangat menyayangi ayahnya. Apa yang harus ia katakan pada fika ketika ia pulang nanti. Seperti apa fika ketika tahu kalau ayahnya sudah tiada sedang ia tidak tahu menahu tentang kematian ayahnya. Fatimah dan kedua anaknya pun tetap tegar setelah kepergian suaminya dan melanjutkan rutinitas mereka sebagia pencari kerang dipinggiran pantai. keadaan keluarga mereka pun sudah lebih baik sejak kepergian Ali sebab kepergian Ali memberi hikmah yang
luar biasa untuk fatimah, ia mendapathibah dari desaatas kepergian suaminya.

Tiga musim berganti, tidak terasa sudah 3 tahun lebih fika meninggalkan gubuk sederhana itu tanpa tau apa saja yang sudah terjadi dirumah tersebut. Sudah saatnya ia pulang untuk beberapa saat sebelum akan diberangkatkan ke Istanbul sebagai perwakilan siswa penghafal Qur’an tercepat. Tidak salah fika dikatakan sebagai siswa terbaik di kelasnya sebab
dalam waktu 8 bulan ia sudah bisa menghafal serta memaknai arti AlQur’an dengan baik. Kepulangan fika kerumah memberi kebahagian pada hati Fatimah. Anak yang dirindukan nya selama tiga tahun akhirnya pulang dengan membawa kabar yang membanggakan. Tapi kebahagiaan itu berubah ketika fika megetahui bahwa ayahnya telah tiada bahkansudah dua tahun lalu. Hati fika hancur berkeping – keping, saat- saat dimana yang ia rindukan dan ia janjikan untuk memberi hadiah kepada sang ayah secara langsung bahwa ia sekarang sudah menjadi seorang hafidzah sudah tak bisa terealisasikan lagi. Senyum indah ayah yang selalu ia bayangkan setiap malamketika meberi kabar gembira ini hilang begitu saja.

Dengan tubuh yang lemah dan isakan tangis fika berkata “umi, fika ingin menziarahi kuburan abi” lirih fika disertai buliran air mata bak hujan di siang hari. Fatimah pun memeluk fika untuk menyemangatinya dan membawanya kekuburan Ali.

Seminggu setelah balik kekampung halaman fika pun harus berangkat ke Istanbul untuk melanjutkan sekolahnya sebagai seorang penghafal Qur’an. Meski hati tak sanggup meninggalkan umi dan adik – adiknya tapi ini adalah kewajiban dan amanah ayah yang harus selalu ia pegang. Menjadi anak yang sholeh adalah impian dari setiap orang. Anak yang dapat
menarik kedua orang tua nya ke dalam Surga dan Anak yang Doa nya tak tertolak oleh penjuru langit.

Itulah fika anak dari seorang nelayan miskin dan pencari kerang dipinggiran pantai yang berhasil sekolah sampai ke Istanbul,serta menghadiahkan mahkota terindah untuk kedua orang tua nya.

Oleh: Silvia Handayani Mahasiswa semester III Akuntansi Perbankan dan
Keuangan, Politeknik Negeri Medan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

KontraS Sumut Akan Gelar Aksi Bela HAM di Tugu Nol Medan

Teropongonline, Medan-Peringati Hari HAM Internasional, Komisi Untuk Orang