Dosenku, Motivasi Menulisku

Dosenku, Motivasi Menulisku

- in Dunia Sastra
262
0

Tik tuk tik tuk…..!

            Terdengar suara hentakan sepatu. Jika dipandang wanita ini memiliki senyum yang begitu rupawan, bola mata yang terlihat tajam dan bijaksana serta penuh kasih sayang wanita ini begitu banyak di kagumi oleh mahasiswanya. Tubuhnya mungkin tak seideal model kebanyakan, namun bagiku ia adalah role model saat di kelas yang selalu aku tunggu lemah gemulai gerakannya.

Tebing Tinggi, disanalah beliau dilahirkan. Menghitung barisan jalan beliau lalui demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejauh perjalanan, setulus hatinya. Ia dosen yang sangat penulis kagumi, Fatimah Sari Siregar adalah namanya. Wanita yang lahir pada 11 September 1984 tersebut menuntut ilmu sejak Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota kelahirannya, Tebing Tinggi. Tahun 2003 menjadi awal mula kecintaannya terhadap dunia tulis menulis, walaupun awalnya Ia gagal dalam lomba penulisan karya ilmiah, namun Ia tak pernah putus asa. Ia terus berlatih dan berlatih hingga akhirnya Ia mumutuskan bahwa menulis adalah hobinya yang suatu saat akan bermanfaat untuk orang lain.

Fatimah lahir dari pasangan sempurna H.K Siregar dan Hj. Fauziah Pohan. Pada tahun 2006 Fatimah sudah berhasil mendapatkan gelar Strata Satu (S1) Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Lalu, pada tahun 2010 yang lalu juga berhasil menyandang gelar Magister Linguistik Terapan Bahasa Inggris Universitas Negeri Medan (Unimed). Semua gelar yang ia peroleh, ia manfaatkan untuk menjadikan dirinya sebagai pahlawan bangsa yang dimuliakan dan diimpikan oleh banyak orang.    

Bekerja sebagai seorang dosen, rupanya dianggap elit oleh sebagian orang hingga bahkan tak jarang menjadi dambaan. Tak hanya sekedar mengajar sesuai dengan kurikulum yang berlaku, namun seorang dosen juga harus bisa memotivasi mahasiswanya agar memiliki semangat yang tinggi dalam meraih prestasi.

Entah hal menarik jenis apa yang mampu membuatnya memutuskan untuk menjadi staf pengajar/dosen tetap di UMSU. Mungkin saja merupakan ketukan hati dari Yang Kuasa ataupun panggilan nuraninya sebagai sang pendidik.

Sejak tahun 2001, Fatimah sudah dipersunting oleh seorang pria beruntung, Ia adalah Ahmad Saparjo Subki. Fatimah menjelaskan bahwa kisah cintanya dengan sang suami bak mutiara dalam kerang di lautan asin, sulit untuk diungkapkan. Satu motivasi berharganya adalah selalu bersyukur, hal tersebut selalu Ia lakukan meski hingga saat ini bersama sang suami belum diberi keyakinan untuk memiliki seorang momongan

“Saya memang tidak memiliki anak dari rahim saya sendiri, namun saya sangat bahagia dan bersyukur karena memiliki ribuan anak yang sangat saya sayangi, yaitu kalian.”

            Salah satu kalimat dari Fatimah yang membuat saya sebagai  penulis tersenyum lebar ketika mendengarnya.

             Tak hanya sebatas dosen saja, Fatimah juga berhasil diberi amanah untuk menjadi Ketua Unit Penulisan Karya Ilmiah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara   (UPKIM UMSU). Hal tersebut bukan dilakukan atas dasar, kerja keras, tanggung jawab, kelihaian dalam menulis dan meneliti, serta kejujuran yang tertanam dalam diri seorang Fatimah sehingga ia diberi amanah langsung sebagai Ketua.

Ketika tulisannya dibaca dan bermanfaat bagi orang lain, rupanya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Fatimah. Hal tersebutlah yang menjadi motivasinya hingga kini.

“Saya sangat bahagia ketika menulis, terlebih kalau tulisan saya dibaca orang banyak, bahagia sekali rasanya.”

            Fatimah akrab disapa dengan sebutan Mam Fatimah oleh anak didiknya selalu berkata pada siapapun termasuk anak didiknya, jangan pernah malas untuk menulis, karena baginya, menulis merupakan salah satu bakat yang tidak hanya bisa untuk menjadi konsumsi sendiri namun juga untuk orang lain.

            Banyak membaca buku dan menuliskan setiap ide pikiran ke dalam buku menjadi tips yang selalu diberikan olehnya untuk dapat memacu diri bisa menulis. Satu hal yang terpenting adalah ia menyuruh anak didinya untuk terlebih dulu mengenali diri sendiri, karena hanya diri sendirilah yang akan memutuskan arah hidup. Ia selalu berharap agar anak didiknya tidak pernah jenuh dan berhenti untuk menulis.

“Tidak ada orang yang tidak bisa menulis, hanya niat dan kemauan yang membuat kamu terus giat untuk menulis.”

Kalimat tersebut menjadi penutup perjumpaan penulis sore itu di ruangan dingin dengan AC. Senang bisa mendengar ceritanya, dosenku, motivasi menulisku.

Oleh : Ummu Amnah

About the author

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Sudut Pandang Mahasiswa Terhadap Privilege dari Good Looking

Teropongonline, Medan – Berpenampilan menarik saat ini kerap