Lelaki Pegiat Mimpi

Lelaki Pegiat Mimpi

- in Dunia Sastra
265
0

Mimpilah setinggi-tingginya, bangunlah sekuat-kuatnya, jatuhlah sedikit-
dikitnya bila perlu sebanyak-banyaknya. Kau tak perlu bangun bila kau tak pernah jatuh tetapi kau harus jatuh agar kau tau bagaimana untuk proses bangun, bagaimana kau bisa merasakan proses jatuh bangunnya kehidupan agar kau mengerti bahwa kerasnya hidup ini untuk menggapai mimpi.

Ingin sekali rasanya untuk menghentakkan segala yang ada di benak
kepala yang begitu kuat melekat sampai meleleh jika aku tak sanggup
melewatinya. Tetapi bukan aku jika mudah berputus asa dan menyerah. Proses panjang membuat aku semakin menikmati perjalanan kehidupan walau terkadang proses jemu datang bagai tak diundang tetapi aku terus melawan itu.

Kesibukan membuatku tak bisa seperti orang di luar sana, yang bisa
menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan, futsal, dan lain sebagainya. Meskipun terkadang aku ingin bisa seperti mereka, siapa sih yang tidak ingin jalan-jalan, main futsal dan menikmati apa yang membuatnya senang, semua orang pasti ingin merasakan itu karena itu adalah hal yang lumrah yang diinginkan setiap orang. Tetapi aku tak pernah menyesali itu karena semua itu sudah pilihanku dan tuntutan.

Aku Fahri mahasiswa Fkip jurusan Akuntansi semester V, selain kuliah
aku juga aktivis kampus. aku menaungi sekaligus dua organisasi yaitu Imm dan Ukm Bidikmisi yang namanya Permadiksi karena aku juga mahasiswa bidikmisi. Fajar berganti petang, barulah aku beranjak untuk pulang setelah kesibukanku di kampus selain kuliah, begitulah keseharianku di kampus sampai petang berganti malam itu kulanjutkan untuk bekerja meneruskan usaha ayahku.

Selain aktivis aku juga giat untuk mengikuti lomba yang ada di kampus bahkan lomba nasional dan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang setiap tahun diadakan Kemenristekdikti terus ku ikuti walau aku belum ditakdirkan untuk bisa lolos, namun bukan membuat aku mundur tetapi membuat aku semakin pacu agar bisa menjadi orang yang hebat. Karena tidak ada keberhasilan yang didapat dengan mudah. Kita harus pernah mencoba gagal untuk mengenyam sukses, karena orang yang sukses berawal dari kegagalan. Sampailah aku bertemu dengan Tim Pkm ku, ia juga dulu pernah satu organisasi denganku. Ia adalah mahasiswa Fkip jurusan Bahasa & Sastra Indonesia semester V juga. Dari mulai itu, seiring berjalannya waktu aku mulai kagum dengannya. Aku mencoba untuk mendekatinya, sikapnya yang dingin membuat aku penasaran hebat terhadap dirinya. Aku menjulukinya sebagai wanita mini. Ada alasanku mengapa aku menjulukinya sebagai wanita mini karena ia berbadan mungil. Ia bernama Aina. Keesokannya kami janjian untuk bertemu membahas mengenai PKM. Kami janjian ketemu itu siang di jam dua karena di jam itu aina masih kosong jadwal kuliah, ia masuk kuliah jam empat sore karena mata kuliah pertama dosennya berhalangan hadir. Aku dan aina janjian ketemu di pendopo, aku pun menunggunya yang tak kunjung datang.

“na dimana ?, aku udah di pendopo nih”, ngechat aina di wa
“ bentar ya ri, aku lagi otw kok,”
“ok, hati-hati ya,”
“ lebay lah kau ri, kayak jauh aja perjalananku kau buat ya, meleset aja
aku dah nyampek kampus, orang dekat kok”,
“ heeheh… salah aja aku dimatamu ya”,
“ hahahhahh”,
“ tawak, cepat ya ku tunggu gak pake lama”,
“ goyang kali ya ri kayak setang becak, ya sabar lah”,
“ wkwkwk sipp dah hati-hati wanita mini, sambil mengirimkan emot
mengejek”
“ oke boy, membalasnya dengan emot ketawa”


Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara, aku memiliki abang, kakak
serta kedua adik, cewek dan cowok. Abang dan kakakku telah sudah berumah tangga, tinggallah aku dan kedua adikku bersama orang tua sekarang. Adikku yang cowok sedang duduk di bangku SMA dan yang terakhir masih duduk di bangku SD. Hidup di dalam kesederhaan membuat aku terus berjuang agar tetap bisa sekolah bahkan bisa sampai kuliah sekarang. Lulus di jalur bidikmisi bukanlah hal yang mudah, itu kulewati dengan proses yang panjang.

“yah, sekarang aku sudah selesai tamat SMA, aku ingin bisa kuliah lah
yah,” ucap fahri sembari santai selesai makan malam bersama keluarga.
“mungkin ini begitu pahit untuk kau terima ri, tetapi ini harus tetap ayah
katakan, ayah tak sanggup untuk mengkuliahkanmu, kau tau sendirikan adekmu dua masih sekolah juga,” lanjut ayah merespon ucapan fahri

“ iya yah ri paham, tapi tekad ri sangat kuat untuk bisa mengenyam
bangku kuliah seperti teman-teman ri yang lain. Tapi jika tahun ini belum rezeki ri untuk bisa kuliah, yasudah yah, ri akan berusaha untuk bisa dapatkan beasiswa,” ucapnya

“baiklah ri, ayah dan ibu hanya bisa bantu doa yang terbaik buatmu, ayah
juga akan berusaha bagaimana agar kau bisa untuk kuliah,” sambut ayahnya

“iya yah, doakan fahri ya yah, bu,”.
“itu pasti ri,” balas ayah dan ibu

Sehabis itu ri pergi ke kamarnya, jawaban itu begitu dahsyat untuk di
dengar, begitu perih untuk dirasa bahkan jawaban ayah sangatlah bertolak
belakang dengan keinginanku. Tetapi aku tak bisa apa-apa di depan mereka, aku hanya bisa bermain drama bahwa aku akan baik-baik saja di depan mereka padahal hatiku hancur berkeping-keping.

Di gelap gulitanya malam, aku juga belum bisa tidur saat itu. Pikiranku
penuh seakan diisi bom yang akan meledak. Namun aku tetap terbang di dalam imajinasiku yang memuncak, berkhayal bisa menjadi seorang mahasiswa sampai lah khayalan itu buyar karena lampu tiba-tiba padam, akupun akhirnya memutuskan untuk tidur karena padamnya lampu bagai isyarat agar aku harus tidur. Aku percaya bahwa usahaku yang keras dan doaku yang kuat akan berbuah hasil yang nikmat, dan alhamdulillah setelah proses panjang aku lewati untuk bisa mendapatkan beasiswa bidikmisi setelah melewati kegagalan untuk masuk Perguruan Tinggi Negri (PTN) ternyata UMSU adalah takdir hidupku untuk menuntut ilmu. Sesuai keinginan ku untuk bisa mengenyam bangku kuliah.

Kabar bahagia kuhadiahkan untuk kedua orang tua yang terhebat yang tak
pernah berhenti sedikitpun mensupport anak-anaknya. Sebenarnya aku hampir tak percaya bahwa aku bisa kuliah, aku sudah hampir down saat aku tahu kalau aku tidak bisa mengenyam bangku kuliah. Namun takdir baik berpihak kepadaku.

Terimakasih Rabbiku.

Seiring berjalannya waktu aku bergitu menikmati proses termasuk juga
lomba PKM yang di adakan setiap tahunnya oleh Kemenristekdikti, itu selalu ku ikuti bahkan sampai saat ini. Wanita yang kujuluki dengan wanita mini adalah wanita yang menurutku satu pikiran denganku. Walau kami selalu berlaga argumen. Tapi tetap ku akui bahwa kami menikmati proses dan sering sharingdalam dunia perkuliahan.

Saling mensupport dan saling menyemangati karena kami satu tujuan yaitu
menjadi orang yang terhebat diantara orang-orang yang hebat, menjadi orang yang terbaik diantara orang yang baik. Esoknya sepulang aku kuliah jam sebelas aku bertemu dengan Aina yang lagi duduk santai di bawah gedung B fakultas Fkip berdua dengan temannya yaitu Indri, aku langsung menghampirinya.

“Heyy na, lagi sibuk gak,” menghampiri Aina yang lagi mengobrol
dengan temannya.

“ehh kau nya Ri, gak pala sibuklah, kenapa tu,”
“gak papa sih aku pingin diskusi aja samamu, bisa gak?
“lama gak ? , soalnya aku masuk jam satu nih,”
“gak kok, sebentar aja,”
“yauda deh, tapi aku ajak temanku bisa kan ?

Lalu indri pun menjawab:
“ehh na aku mau ke perpus ajalah dulu, yauda kau kan mau diskusi nanti
kalau sudah selesai diskusi kabari aja ya, biar kita bareng naik ke kelasnya,”

“jadi gak mau ikut diskusi sama kami nih,” respon Aina
“gak lah, lagian ada buku yang harus ku pinjam di perpus, yauda aku ke
perpus dulu ya”
“oke deh, yauda deh Ri, yoklah kita diskusi mengenai PKM kan ?
“ iya dong,”

Kami pun saling melempar senyum saat diskusi telah dimulai apalagi jika telah berlaga argumen.

Oleh : Ummu Amnah

About the author

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

7 Tips Mengerjakan Skripsi Agar Lulus Tepat Waktu

Teropongonline, Medan-Memulai skripsi dengan persiapan dapat menghasilkan skripsi